Nama:
Uswatun Khasanah
Kelas:
TBI-B/1V
NIM:
1414131067
A. ISI
Buku yang berkategorikan pendidikan ini diberi judul Sejarah Pendidikan Indonesia. Buku ini
merupakan karya Prof. Dr. S. Nasution, M.A sebagai wujud dari pencatatan
sejarah pendidikan Indonesia pada masa kolonial Belanda. Secara garis besar buku ini menceritakan
tentang progres pendidikan di Indonesia sejak zaman VOC pertama kali menduduki
tanah air tercinta, hingga terbentuknya perguruan tinggi pertama di Indonesia
pada tahun 1920. Area sejarah pendidkan Indonesia yang dibahas dalam buku ini
dibatasi hanya dari periode 1892 hingga 1920.
Buku ini menjelaskan betapa sulitnya masyarakat
Indonesia memperoleh pendidikan yang layak, bahkan hingga sampai perguruan
tinggi pertama di Indonesia resmi dibuka pun tetap saja tidak semua rakyat
Indonesia merasakannya. Hanya segelintir anak Indonesia yang dapat mengenyam
pendidikan hingga sampai pada tahap universitas. Pemerintah kolonial Belanda
jauh berbeda dengan Amerika dalam hal pembangunan pendidikan pada masing-masing
negara yang dijajahinya. Sebagai contoh yang dimuat dalam buku ini, Nasution
mengemukakan bahwa jumlah biaya yang dilekuarkan oleh pemerintah Belanda untuk
pendidikan hanya 5-10% dari biaya yang dikeluarkan oleh Amerika untuk Filipina
(2008:22).
Pada zaman Verenigde Oos-Indische Compagnie (VOC)
sekolah pertama didirikan di Ambon pada tahun 1607, sekolah ini bertujuan untuk
memusnahkan ajaran Katolik yang menjadi agama peninggalan Portugis, kemudian
menggantikannya dengan agama Protestan. Kurikulum yang digunakan pada zaman ini
ialah kurikulum berbasis gereja. Namun sayangnya setelah agama Katolik telah
lenyap, orang Belanda tidak memiliki keinginan untuk mempengaruhi masyarakat
Islam untuk bergabung dengan agama mereka, sehingga pendidikan pada zaman ini
mengalami penurunan disaat agama protestan telah tumbuh dimasyarakat khususnya
didaerah Timur yang dahulu merupakan pusat agama Katolik hidup. Belanda
memiliki ciri politik umum dalam pendidikan diantaranya gradualisme, dualism, kontrol sentral, keterbatasan tujuan, prinsip
konkordansi, tidak adanya perencanaan pendidikan yang sistematis untuk
pendidikan anak pribumi (2008: 20), yang keenam aspek tersebut tidak
menguntungkan bagi pendidikan untuk anak pribumi.
Dalam buku Sejarah Pendidikan Indonesia ini memuat
sepuluh jenis sekolah selama periode 1892 hingga 1920. Jenis-jenis sekolah
tersebut antara lain:
1. Sekolah untuk Anak Indonesia Sebelum Reorganisasi 1892.
Sekolah
ini merupakan sekolah yang sangat sederhana, sekolah ini dibatasi hanya untuk
anak-anak priyai, alasan pembatasan ini ialah masalah finansial. Sekolah ini
tidak memiliki kurikulum yang uniform, namun ada empat mata pelajaran yang
diwajibkan yakni membaca, menulis, bahasa (Bahasa Daerah dan Bahasa Melayu),
dan berhitung. Agama tidak diajarkan disekolah ini. Guru pada sekolah ini tidak
semuanya lulusan Sekolah Guru, terdapat pula guru hasil perekrutan yang pada
masa itu amat dibutuhkan melihat kurangnya jumlah guru yang berasal dari
Sekolah Guru. Murid-murid pada masa ini didominasi oleh anak laki-laki.
2. Sekolah Kelas Satu
Sekolah
Kelas Satu merupakan sekolah yang dikhususkan bagi anak bangsawan atau priyai.
Lamanya waktu yang harus ditempuh selama pendidikan Sekolah Kleas Satu ini
adalah 5 tahun, dengan kurikulum yang tak jauh berbeda dengan masa
reorganisasi, namun mengalami penambahan menjadi 6 tahun ketika bahasa Belanda
masuk menjadi mata pelajaran di sekolah ini, hingga akhirnya masa tempuh
Sekolah Kelas Satu ini berubah menjadi 7 tahun dengan pengajaran bahasa Belanda
yang dimulai sejak kelas 1. Sayangnya sekolah ini masih tetap jauh tertinggal
dibanding sekolah untuk anak Belanda (ELS) dan sekolah untuk anak Cina (HCS).
3. Sekolah Kelas Dua
Sekolah
ini diperuntukkan bagi anak pribumi dari kelas biasa. Lama waktu pendidikan yang
harus ditempuh mulanya ialah 3 tahun, namun berganti menjadi 5 tahun dan
kembali berganti menjadi 6 tahun setelah Jepang menduduki Indonesia. kurikulum
pada Sekolah Kelas Dua sangat sederhana yakni membaca, menulis dalam bahasa
Melayu dan berhitung. Mutu guru pada Sekolah Kelas Duapun rendah. Bahasa
Belanda tidak diajarkan di sekolah ini. Ketika Sekolah Kelas Satu beganti nama
menjadi HIS, maka sekolah ini tidak lagi menggunakan nama Sekolah Kelas Dua
melainkan Sekolah Standar atau Sandard School. Banyak murid dari
Sekolah Kelas Dua yang putus sekolah dikarenakan berbagaia alasan, dan salah
satu diantaranya ialah tidak adanya jaminan menjadi pegawai pemerintah sehingga
banyak siswa yang mengundurkan diri ataupun drop out.
4. Sekolah Desa (Volkschool)
Kualitas
dari sekolah desa ini jauh lebih memprihatinkan dibandingkan dengan Sekolah
Kelas Dua. Pendopo dijadikan sebagai gedung untuk kegiatan belajar mengajar,
dengan alasan yang sama yakni penekanan biaya finansial yan semurah mungkin.
Seiring dengan perkembangannya Sekolah Desapun dijadikan sebagai sekolah
sambungan untuk melangkah ke jenjang Sekolah Kelas Dua. Meskipun pada sekolah
ini kurikulum serta guru pengajar yang kualitasnya sangat rendah, namun sekolah
ini memiliki peran yang nyata yakni mampu mengurangi angka buta huruf pada
masyarakat pribumi.
5. Europese Lagere School (ELS)
Merupakan
sekolah yang didirikan khusus untuk anak orang Belanda ataupun Indo-Belanda,
sekolah ini memiliki keunggulan jauh dibandingkan sekolah-sekolah untuk anak
pribumi. Guru dan kurikulumnya pun didatangkan langsung dari Belanda. ELS juga
memiliki kemungkinan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi ataupun
menjadi pegawai pemerintah dengan peluang yang beasar. Tak heran banyak siswa
pribumi yang menginginkan untuk dapat masuk ke ELS, namun sangat sulit
sekalipun bagi anak priyai. Biaya yang harus dikeluarkanpun tinggi sehingga
hanya segelintir anak pribumi yang masuk ELS, namun bukan masuk ke ELS kelas
satu. Fasilitas yang dimilikinya pun berbeda dengan sekolah lain, ELS memiliki
perpustakaan yang selalu mendapatkan subsidi pemerintah setiap tahunnya,
koleksi buku yang terdapat di perpustakaan ini mencapai 3.600 buku persekolah.
ELS menjadi sekolah elit sosial, karena menurut pandangan orang tua murid
sekolah ini menjadi tolak ukur status sosial mereka.
6. Holland Chinese School (HCS)
Merupakan
sekolah yang dikhususkan untuk orang Cina maupun keturunan Indo-Cina, orang
pribumi tidak diizinkan bersekolah disini. HCS didirikan sebagai bentuk
kekhawatiran pemerintah Belanda akan tidak loyalnya orang Cina terhadap
pemerintah, karena kebanyakan dari mereka adalah pedagang yang juga taat pajak.
HCS ini memiliki fasilitas yang sama dengan ELS. Terdapat pengajaran bahasa
Belanda juga bahasa Inggris di sekolah ini.
7. Holland Inlandse School (HIS)
Merupakan
peralihan nama dari Sekolah Kelas Satu, pergantian nama ini diakibatkan dari
kualitasnya yang semaki meningkat. Ditandai dengan kurikulum yang meliputi
semua mata pelajaran ELS bukan kelas satu dengan perbedaan juga bahwa diajarkan
membaca dan menulis bahasa daerah dalam aksara Latin dan bahasa Melayu dalamm
tulisan Arab dan Latin (2008: 114). HIS berorientasikan pada pendidikan barat,
HIS juga mengajarkan siswanya bahasa Belanda. Terdapat peluang untuk menjadi
pegawai pemerintah setelah lulus meskipun sedikit porsinya dibanding dengan
ELS.
8. Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO)
MULO dan HIS sama-sama diresmikan pada tahun 1914. MULO merupakan
kelanjutan dari ELS maupun HIS. MULO merupakan sekoah pertama yang tidak
mengikuti pola pendidikan Belanda, namun tetap merupakan pendidikan yang
berorientasi Barat dan tidak mencari penyesuaian dengan keadaan Indonsia (2008
: 123). MULO memiliki empat program bahasa yaitu Belanda, Perancis, Inggris dan
Jerman. Murid-murid pada sekolah MULO didominasi oleh anak laik-laki. MULO
merupakan jembatan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tiggi
seperti AMS.
9. Hogere Burgerschool (HBS) dan Algemene Middelbare School (AMS)
HBS
merupakan sekolah menengah yang membantu menjembatani siswa khususnya anak
Belanda untuk dapat melanjutkan ke jenjang universitas. HBS memiliki kurikulum
yang sama dengan Nederland. Siswa HBS harus mempunyai bakat yang tinggi
dibidang matematika, dan ilmu pengetahuan alam maupun untuk bahasa (2008 :
133). Sayangnya biaya sekolah HBS sangat mahal sehingga orang pribumi sulit
untuk menjangkaunya, ditambah dengan banyaknya mata pelajaran yang sulit, tak
heran jika yang mampu menamatkan sekolah HBS sangat sedikit jumlahnya.
AMS
merupakan sekolah sekelas HBS bagi oang pribumi, dengan diberi tambahan bahasa
Melayu sehingga para siswa dengan mudah berinteraksi dan juga memasukkan bahasa
Yunani kedalam mata pelajaran. AMS benar-benar dijadikan sebagai jalan masyarakat
pribumi untuk melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
10. Pendidikan Tinggi
Pada tahun 1920 didirikan perguran tinggi pertama di Indonesia dengan
nama Technisce Hogschool atau yang
sekarang bernama ITB (Institut Teknologi Bandung). Pendirian perguruan tinggi
ini bukanlah hasil kesadaran pemerintah Belanda akan ketertingglan negara
jajahannya dalam bidang pendidikan, melainkan atas dasar kebutuhan akan para
pegawai teknik maupun yang lainnya, mengingat terputusnya hubungan dengan
Nederland akibat dari Perang Dunia I sehingga dibuatlah perguruan tinggi
pertama di Indonesia. sedangkan pada masa itu sangat jarang atau bahkan hampir
tidak ada orang Indonesia yang mampu menamatkan perkuliahan. Orang Indonesia
pertama yang mampu meraih gelar di perguruan tinggi ini adalah presiden pertama
kita yakni Ir. Soekarno. Meskipun sangat sulit bagi masyarakat pribumi untuk
masuk ke perguruan tinggi, namun setidaknya jalan itu sudah terbuka.
B. Sisi Positif dan Negatif dari Buku Sejarah Pendidikan Indonesia
1. Sisi Positif
v Pembaca menjadi lebih mengenal akan sejarah pendidikan
Indonesia pada zaman colonial Belanda.
v Penulis menyajikan data berupa tabel yang bersumber
dari izin Arsip Negara di Schaarsbergen, Nederland serta dari arsip Menteri
Dalam Negeri di Den Haag sehingga data tersebut dapat dipastikan akurat dan tak
menimbulkan keragu-raguan.
v Penulis menjelaskan secara gamblang bagaimana kondisi
yang dihadapi masyarakat Indonesia dalam memperjuangkan haknya mendapatkan
pendidikan yang layak sehingga timbul rasa hormat dan cinta nasionalisme dalam
diri pembaca.
v Pembaca memperoleh wawasan yang lebih mendalam
mengenai pendidikan di Indonesia.
2. Sisi Negatif
v Penggunaan kata yang tidak baku seperti kata
“paling-paling.”
v Pembaca tak jarang dibuat bingung dengan kalimat yang
ambigu, juga terdapat beberapa kalimat dalam buku ini yang tampak seperti
bahasa translate yang kurang rapih.
v Tabel yang disajikan dalam buku sangat sederhana
dengan penjelasan yang sederhana pula.
C. Ilmu yang Didapat Dari Buku Sejarah Pendidikan Indonesia
Buku Sejarah Pendidikan Indonesia mengandung
banyak makna. Buku ini menjadi cermin betapa kontrasnya pendidikan Indonesia di
masa lampau dengan di era modern ini. Pendidikan di era modern ini merupakan
buah dari hasil perjuangan masyarakat Indonesia sebelumnya. Sepatutnya anak
muda di zaman serba teknologi ini merasa malu apabila merka memandang
pendidikan hanya sarana bergaul tanpa menorehkan prestasi yang membanggakan.
Dari buku ini pembaca dapat meniru semangat yang luar biasa berkobr demi
memperjuangkan pendidikan yang layak meskipun masalah finansial menjadi
kendalanya. Dari buku ini pula pembaca merasa jormat sekaligus berterima kasih
kepada para pejuang intelektual yang amat mulia jasanya.
D. Saran
Buku Sejarah Pendidikan Indonesia akan lebih
sempurna jika dalam pemilihan diksinya menggunakan kata yang baku dan mampu
dipahami pembaca. Dalam struktur kalimatpun akan lebih mudah dipahami jika
penggunaan kalimatnya sesederhana mungkin dan tidak menimbulkan makna yang
ambigu. Tabel yang disajikan akan dapat dimengerti pembaca apabila terdapat
keterangan pendukung yang jelas.
REFERNSI
Nasution,
S. (2016). Sejarah Pendidikan Indonesia.
Jakarta: PT Bumi Aksara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar