Name : Imas
Class : ELT-B/4
Writing English for
Academic Purpose
Identitas Buku :
Judul Buku : Sejarah Pendidikan
Indonesia
Penulis : Prof. Dr. S.
Nasution, M.A.
Penerbit : PT Bumi Aksara
Halaman : 162
Judul Review : ‘Menelisik sejarah
pendidikan di Indonesia’
Mendengar
kata ‘Sejarah’ tidak lepas dari kisah-kisah yang terjadi pada masa lampau. Masa
lampau menjadi cerminan yang berharga dalam mengambil suatu hikmah untuk
melangkah lebih baik di masa yang akan datang. Sejarah juga memperjelas
pemahaman-pemahaman kita tentang peristiwa yang terjadi pada masa kini. Indonesia
menjadi suatu negara yang memiliki kisah heroik yang tidak lepas dari
peradaban-peradaban masa lampau yang masih terasa hingga saat ini. Salah satu
yang menjadi ingatan bagi bangsa Indonesia khususnya kalangan penuntut ilmu
yaitu mengenai sejarah pendidikan. Sistem pendidikan yang ada saat ini adalah
hasil perkembangan pendidikan yang tumbuh dalam sejarah pengalaman bangsa
Indonesia pada masa yang telah lampau.
Pendidikan
dari masa penjajahan hingga sekarang tidak dapat berdiri sendiri akan tetapi
senantiasa dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan politik, sosial, ekonomi, budaya.
Pedidikan bahkan dipandang sebagai alat untuk membangun suatu politik bangsa,
bahwa kesuksesan suatu Negara dapat dilihat dari sistem pendidikan yang baik.
Pendidikan menentukan suatu bangsa.
Buku
ini menjelaskan secara detail perkembangan pendidikan dari masa ke masa.
Penulis mengungkapkan suatu peristiwa pada beberapa periode tertentu dalam
sejarah pendidikan Indonesia, yakni periode 1892 hingga 1920. Prof.Nasution
selaku penulis mengatakan masa inilah yang paling menarik dalam sejarah
perkembangan pendidikan Indonesia, karena dalam periode ini terbentuknya suatu
sistem pendidikan yang lengkap di Indonesia yang memungkinkan anak belajar dari
tingkat paling rendah sampai tingkat pendidikan tinggi di bumi Indonesia
sendiri.
Pada
zaman pemerintah kolonial belanda pendidikan di Indonesia dikuasai oleh para
penjajah Nederland. Pada awalnya bangsa Belanda datang ke Indonesia yaitu untuk
berdagang dan mengeruk keuntungan dari Indonesia yang kaya akan alam dan
rempah-rempah yang dimilikinya. Salah satu cara yang dimiliki oleh bangsa
belanda untuk mengambil keuntungan dari Indonesia yaitu melalui pendidikan.
Misi-misi yang di sebarluaskan hanya untuk memperoleh kepentingannya sendiri.
Pendidikan
pertama yang di sebarkan oleh Belanda adalah penyebaran agama terutama di
bagian Timur Indonesia. VOC telah lebih dulu melakukan kegiatan pendidikan berupa
penyebaran agama katolik di Batavia, karena agama katolik dan pusat
administrasi berakar disana. Namun seiring berjalannya waktu. Tahun 1607 bangsa
Belanda berhasil menggeser kedudukan VOC dalam penyebaran pendidikan tersebut
dengan menggantinya dengan agama protestan.
Selama
setengah abad pertama pada abad ke-18 pendidikan hanya disediakan oleh untuk
anak-anak belanda, terutama anak Indo-Belanda agar memberikan kepada mereka
kesadaran akan kebangsaannya sebagai orang Belanda. Pada akhir abad itu
tercapailah taraf pendidikan universal bagi anak-anak mereka dengan kesempatan
memasuki pendidikan tinggi di Negeri Belanda. Tidak dengan anak-anak Indonesia
yang sulit mendapat pendidikan pada kala itu.
Sistem
tanam paksa, suatu metode eksploitasi besar-besaran, akhirnya mendorong Belanda
untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak Indonesia. Pendidikan cepat
berkembang di bawah menteri jajahan yang liberal Fransen van de Putte . Krisis ekonomi tahun 1880-an menyebabkan
kemerosotan pendidikan, dan bahkan dipertanyakan apakah ada faedah pendidikan
bagi rakyat biasa.
Sekolah-sekolah
yang didirikan oleh bangsa kolonial Belanda dimulai dari sekolah Rendah sebelum
tahun 1892 sekolah sederhana dengan gedung dan fasilitas yang kurang memadai.
Sekolah rendah diizinkan memperluas progamnya sehingga mendekati rencana
pelajaran Sekolah Guru, kecuali ilmu mendidik. Krisis ekonomi pada akhir abad
ke-19 memaksa Belanda untuk mengadakan diferensiasi dalam pendidikan anak
golongan atas dan golongan rendah, yang dikenal dengan Sekolah kelas satu dan
Sekolah kelas dua.
Sekolah
kelas satu yang dikhususkan bagi anak kaum bangsawan, lamanya 5 tahun.
Sedangkan sekolah kelas dua lamanya hanya 3 tahun. Pada awalnya kurikulum yang dimasukan
tidak berbeda dengan sistem kurikulum kelas dua. Namun karena pada tahun 1907
telah dimasukkannya bahasa Belanda dengan demikian berbedalah kurikulumnya.
Bahasa Belanda yang tidak diajarkan di sekolah kelas dua merupakan halangan
untuk melanjutkan pelajaran, kecuali ke sekolah biasa yang di buka tahun 1914,
yaitu sekolah guru untuk sekolah kelas dua atau sekolah desa dan sekolah
sambungan. Pada tahun itu pula nama sekolah kelas dua diganti menjadi HIS
(Holland Inlandse School).
Sekolah
desa adalah perwujudan hasrat pemerintah untuk menyebarkan pendidikan seluas
mungkin dengan biaya serendah mungkin di kalangan penduduk untuk meningkatkan
kesejahteraan banga. Sekolah desa menjadi usaha pendidikan terbesar yang pernah
dijalankan oleh Belanda untuk memberi kesempatan keapada rakyat untuk belajar
membaca, menulis, dan berhitung.
Pada
masa penjajahan Indonesia, banyak berdirinya pendidikan-pendidikan di Indonesia
baik yang bercorak lokal maupun barat dan cina. Salah satu contoh dari
pendidikan tinggi barat dengan didirikannya EUROPESE LAGERE SCHOOL (ELS) dan
sekolah cina yang bernama HOLLANDS CHINESE SCHOOL (HCS).
Hollands
Inlandce School atau biasa disebut HIS. HIS dapat dipandang sebagai perkembangan
wajar sekolah kelas satu. HIS dipandang sebagai alat pemerintah untuk
menyebarkan bahasa Belanda di kalangan rakyat dan dengan demikian akan
mempererat hubungan kedua bangsa itu dan juga dengan didirikannya HIS
diharapkan dapat membendung banjirnya anak Indonesia ke ELS. Bagi orang
Indonesia HIS merupakan jalan utama bagi mobilitas sosial. Sekolah ini memenuhi
keinginan anak Indonesia untuk melanjutkan pendidikan sampai tingkat
setinggi-tingginya.
Selaras
dengan hal ini. Penulis mengungkapkan bahwa sebagai lembaga pendidikan barat
yang telah dipaparkan sebelumnya, ada bahayannya bagi anak-anak yang akan
merasa asing terhadap kebudayaannya sendiri, benci akan pekerjaan dengan
tangan, tidak lagi ingin kembali ke desa. Namun, ternyata pendidikan Belanda
tidak menghalangi seseorang menjadi Nasionalis yang menentang penjajahan
Belanda.
Meer
Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) merupakan sekolah menengah yang dimaksud
untuk menjembatani dari sekolah HIS menuju ke jenjang yang lebih tinggi yaitu
MULO. Dari segi organisasi MULO mempunyai kedudukan yang penting. Dengan adanya
MULO dan diubahnya Sekolah kelas satu menjadi HIS maka bagi anak-anak Indonesia
terbuka jembatan untuk memperoleh pendidikan yang setinggi-tingginya. Oleh
karena itu, dibukannya MULO merupakan suatu tonggak yang penting dalam sejarah
pendidikan Indonesia. dibukanya AMS sebagai super struktur MULO merupakan
langkah ke perguruan tinggi. AMS memenuhi suatu kebutuhan dan memberi dorongan
ke arah terwujudnya suatu impian, yaitu kreasi universitas di Indonesia,
mahkota struktur pendidikan.
Setelah
meninjau perkembangan pendidikan di Indonesia yang terpenting pada masa itu
ialah sistem pendidikan yang lengkap dan berkembang yaitu pada masa periode
1892-1920 dengan memberikan dasar yang kokok bagi perkembangan sistem
pendidikan Indonesia modern di kemudian hari.
Apa
yang disampaikan oleh Prof. Nasution dalam buku tersebut benar adanya, ia menjelaskan
dengan rinci dan terarah Sehingga penulis mampu membawa pembaca menelisik jauh
ke lorong waktu sejarah pendidikan Indonesia.
Pembaca sependapat dengan yang dikatakan
oleh penulis. Walaupun Belanda senantiasa berusaha untuk menekan perkembangan
bangsa Indonesia dengan menyajikan pendidikan yang paling sederhana dengan
biaya yang serendah-rendahnya, untuk kepentingan mereka sendiri. Namun, memaksa
mereka mengembangkan pendidikan secara vertikal yang akhirnya melahirkan
lembaga pendidikan tinggi di Indonesia. Belanda telah menjadi pintu gerbang
membawa bangsa Indonesia kedalam jalan yang terang menuju pendidikan yang lebih
baik.
Disamping
itu Prof. Nasution juga berusaha menggambarkan kepada khalayak dengan
tersajinya tabel-tabel secara jelas dan sitematis, baik itu tabel jumlah
kurikulum yang ada pada masa itu maupun tabel jumlah perkembangan
sekolah-sekolah di Indonesia dari masa ke masa. Dari bab ke bab buku ini sangat
menarik pembaca untuk mengetahui bagaimana kelanjutan kisah sejarah pendidikan
di Indonesia. Istimewahnya Prof. Nasution memberikan suatu rangkuman dan
tinjauan pada akhir dari tiap-tiap bab, hal ini membuat pembaca lebih mudah
memahami isi dari pemaparan pada bab tersebut. Dan juga beliau menutup bukunya
dengan sangat apik yang jarang ada di buku lainnya, yaitu terdapat penutup yang
berupa rangkuman dari pemaparan seluruh isi buku yang telah di jelaskan.
Disamping
kelebihan-kelebihan yang ada. Buku ini pun tak luput dari
kekurangan-kekurangan, karena menelisik pada filosofi kehidupan di dunia dimana
semuanya selaras dan berpasang-pasangan. Dimana ada siang pasti ada malam
begitu pula dengan buku Sejarah Sendidikan Indonesia ini dimana ada kelebihan
tentu ada kekurangan.
Suatu hal yang harus di pertimbangkan lagi
oleh Prof. Nasution. Mungkin karena ini adalah buku tentang sejarah oleh karena
itu sedikit sekali tentang argumen yang di sampaikan oleh penulis tentang
pendidikan. Selayaknya penulis mencantumkan keadaan pendidikan saat ini untuk
bisa menjadi cerminan pada pendidikan masa lampau. Sehingga akan terjadinya
keselarasan yang akan mudah dipahami oleh pembaca.
Penulisan
dalam buku ini terdapat beberapa pemilihan kata yang kurang tepat dan tidak
sesuai dengan ejaan yang disempurnakan. Bahasa yang digunakan penulis dalam
memaparkan isi buku ini terlalu sulit untuk dipahami, terdapat istilah-istilah
yang tidak diketahui pembaca khususnya bagi orang non akademisi. Sehingga
terjadinya sedikit misunderstanding.
Saran
yang di berikan kepada penulis, selayaknya Prof. Nasution lebih teliti dalam
memilah kata yang akan dipakai dalam tulisan tersebut, memilih kata yang dapat
dipahami oleh semua jenis kalangan (akademis maupun non akademis).
Penulis
secara jelas menorehkan tujuan dituliskannya buku ini yakni untuk membongkar
dan membentengi para pendidik untuk lebih menghargai pendidikan. Karena proses
pendidikan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia di masa lampau telah menuaikan
titik-titik yang teramat pilu dan butuh perjuangan. Dimana bangsa Belanda terus
gencar memasukkan pendidikan-pendidikan sesuai dengan keinginannya demi meraup
keuntungannya sendiri.
Membaca
buku ini, seolah-olah pembaca berada pada masa kala itu. Penulis telah berhasil
membawa pembaca masuk kedalam lorong waktu dalam kurun waktu yang lama.
Sehingga pembaca (khususnya pendidik) dapat bercermin pada sejarah pendidikan
Indonesia yang sarat akan makna dan hikmah yang dapat diambil. Pembaca saat ini
menjadi lebih tahu mengenai seluk-beluk sejarah pendidikan di Indonesia, bahwa
sejarah telah membawa kita dan menyadarkan kita untuk lebih menghargai dan
memahami suatu peristiwa tersebut untuk dijadikan contoh atau cerminan untuk
pendidikan Indonesia lebih maju.
Selanjutnya
terlepas dari itu semua tetap kepada makna yang terkandung pada buku ini bahwa
buku ini memang pantas menjadi panduan atau guide bagi para penuntut ilmu maupun pendidik,
tidak menutup kemungkinan buku ini bisa juga dibaca oleh semua kalangan. Karena
mengingat sejarah pendidikan Indonesia ini telah samar bahkan telah dilupakan
oleh kebanyakan orang. Sehingga Buku ini hadir ketangan pembaca sebagai
penunjuk jalan dan membuka pikiran kita mengenai sejarah. Paling tidak pembaca
dapat memperoleh gambaran mengenai sistem pendidikan masa lampau dan
perjuangannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar