We are B

This is our blog which consist our assignments and our activities during we together in English Departement IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Jokowi Sisca Nursholihat

Cirebon, 01 Maret 2016
“JOKOWI DALAM CERMIN DUNIA : Antara Simpati dan Sinisme”
Oleh Sisca Nursholihat
PBI B/4
            Dalam chapter review ini penulis akan mengupas mengenai isi buku “Jokowi Dalam Cermin Dunia: Antara Simpati dan Sinisme” karya Nurul Ibad M.S yang membahas tentang biografi Presiden Republik Indonesia  ke-7 yaitu Joko Widodo dengan gaya kepemimpinannya yang berbeda dari kepemimpinan sebelum-sebelumnya yang membuat masyarakat Indonesia meyakini bahwa Joko widodo akan membawa Republik Indonesia lebih baik lagi.
            Terkait dengan penulisan chapter review ini maka akan ada beberapa poin yang dibahas diantaranya sekilas tentang buku ” jokowi dalam cermin dunia : antara simpati dan sinisme”,Gaya kepemimpinan Jokowi seperti Umar bin Khatab, sisi positif dan negatif dari buk tersebut dan saran.Berikut ini adalah penjelasannya.
Sekilas tentang buku “Jokowi dalam cermin dunia: antara simpati dan Sinisme”
            Ir. H. Joko Widodo lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 21 Juni 1961 dari pasangan Noto Mihardjo dan Sujiatmi Notomihardjo. Joko widodo dengan nama kecil Mulyono merupakan anak sulung dari empat bersaudara. Pendidikannya diawali dengan masuk SD Negeri 1 Surakarta kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Surakarta dan SMA Negeri 6 Surakarta. Selepas SMA, ia diterima di Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada, setelah menyandang gelar insinyur pada tahun 1985 ia bekerja di BUMN PT Kertas Kraft Aceh.  Kemudian pada tahun 1986 Joko Widodo menikah dengan Iriana di Solo dan memiliki 3 orang anak yaitu Gibran Rakabuming Raka, Kahiyang Ayu dan Kaesang Pangarep.
            Pada tahun 1988, ia mulai merintis usaha mebel dengan nama CV Rakabu. Seiring dengan perkembangan usahanya membuat ia berkeliling ke berbagai daerah dan Negara dan Bertemu dengan Micl Romaknan yang merupakan rekan bisnisnya asal Jerman dan memberinya panggilan yang hingga kini begitu akrab ditelinga kita yaitu “Jokowi”.
            Pertama kali jokowi masuk pada ranah politik yaitu pada tahun 2005 ia maju pada Pilkada sebagai Calon wali kota Surakarta yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan pasangan FX Hadi Rudyatmo dan memenangkan Pilkada tersebut dengan perolehan suara 36,62 %  dan dilantik menjadi walikota pada masa jabatan 2005-2010. Setelah memimpin kota Solo pada masa jabatan 2005-2010 jokowi pun maju kembali pada pilkada berikutnya dan kembali berpasangan dengan FX Hadi Rudyatmo dan memenangkan kembali Pilkada tersebut dengan perolehan suara 90,09 %.  Terpilihnya jokowi menjadi wali kota Solo membuktikan bahwa masyarakat Solo merasa puas dengan kinerja jokowi sehingga satu periode saja tidak cukup untuk menjadi wali kota.
            Adapun gaya kepemimpinan jokowi ini sangatlah berbeda dengan pemimpin-pemimpin yang lainnya, jokowi memiliki gaya kepemimpinannya yang pragmatis dan membumi. Turun langsung ke lapangan dan melihat langsung permasalahan yang ada (blusukan) untuk menemukan solusi yang tepat. Berikut ini adalah prestasi-prestasi yang membuat nama jokowi begitu dikenal masyarakat  luas:
1.      Branding “ Solo: the spirit of java” sebagai anggota organisasi kota-kota arisan dunia tahun 2006.
2.      Politik memanusiakan manusia.
3.      Mobil karya Esemka yang menjadi mobil dinas wali kota.
4.      Menjadi tuan rumah festival musik dunia (FMD) tahun 2007.
5.      10 tokoh terbaik dari 472 kabupaten tahun 2008.
6.      25 besar Wali Kota terbaik di dunia.
Belum habis masa jabatannya sebagai wali kota Solo, jokowi maju sebagai calon gubernur DKI Jakarta karena diamanatkan langsung oleh Jusuf kalla dan berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) kemudian memenangkan Pilkada ini pada putaran kedua dengan perolehan suara 53,82 %. Perjalanan Jokowi untuk menjadi Gubernur Jakarta tidaklah mudah karena banyaknya politikus-politikus yang merasa tersingkirkan oleh Jokowi, belum lagi terdengar isu jokowi akan di calonkan menjadi presiden pada pemilihan tahun 2014 padahal Jokowi baru saja 2 tahun menjabat sebagai Gubernur.
Namun, mendengar masyarakat begitu antusias dengan isu tersebut maka membuat Megawati Soekarno Putri sebagai ketua PDI-Pyakin apabila Jokowi maju pada PILPRES kemungkinan besar menang akan terjadi. Dan majulah jokowi sebagai calon presiden pada tanggal 14 Maret 2014 berpasangan dengan Jusuf kalla, dengan majunya jokowi ke Pilpres membuat polemik warga jakarta karena Jokowi belum menghabiskan masa jabatannya sebagai Gubernur dan pendapat Jokowi yaitu apabila Jokowi menjadi Presiden maka akan lebih memiliki banyak wewenang mengurus jakarta.
Adapun visi misi jokowi dan jusuf kalla untuk menjadi presiden yaitu “ Jalan perubahan untuk Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkpribadian”. Jokowi dan jusuf kalla meyakini bahwa ada beberapa masalah pada bangsa ini yaitu merosotnya kewibawaan Negara, melemahnya sendi perekonomian nasional, merebaknya intoleransi dan krisis kepribadian bangsa. Maka diperlukan revolusi mental dari negativisme menjadi postifisme melalui cara berpikir atau mindset, struktur dan kultur.
Mendekati pemilihan umum pun begitu banyak isu-isu miring tentang jokowi diantaranya kampanye hitam yang menyebut jokowi adalah capres boneka. Namun, isu-isu tersebut cepat ditangani oleh pihak yang berwenang. Dan terpilihlah jowoki dan jusuf kalla sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia setelah melewati beberapa polemik yang begitu rumit.

Gaya kepemimpinan Jokowi seperti Umar Bin Khatab
            Blusukan, kata ini sudah tidak asing lagi ditelinga masyarakat indonesia karena blusukan merupakan salah satu gaya dari Presiden RI ke -7. Begitu cepat meluas kata blusukan ini menyebar luas karena jarang sekali para petinggi-petinggi negara sudi untuk terjun langsung ke lapangan untuk melihat bagaimana kondisi negara terlebih kepada rakyat kecil. Dan jokowi hadir ditengah-tengah kegelisahan rakyat seolah menjadi penerang bagi rakyat kecil yang selama ini jarang didengarkan aspirasinya.
            Menelaah blusukan jokowi ke lapangan mengingatkan penulis pada zaman kepemimpinan Khalifah Umar bin Khatab karena keduanya sama-sama memiliki visi kepemimpinan yang merakyat dengan kesederhanaannya dan membela rakyat demi kesejahteraan rakyat. Umar bin Khatab pun tidak pernah memakai fasilitas negara dan selalu mendengarkan keluh kesah rakyat dan selalu terjun langsun ke lapangan. Sama seperti Jokowi dalam mencintai rakyatnya, kesederhanaan, gaya blusukan yang sangat populer dan anaknya tidak pernah menggunakan  nama besar jokowi sebagai presiden. Mugkin, gaya kepemimpinan Khalifah Umar bin Khatab tersebut yang ditiru oleh Jokowi.
Sisi positif dan negatif dari Buku “ Jokowi dalam cermin dunia: antara simpati dan Sinisme”
            Adapun sisi positif dari buku tersebut adalah:
1.      Penulis buku tersebut tidak hanya menjelaskan sosok Jokowi dari satu sudut pandang saja melainkan dari berbagai pandangan.
2.      Tidak hanya menjelaskan sisi positif dari jokowi saja namun dari sisi negatif juga.
3.      Penulis tersebut membawa sang pembaca bahwa setiap seorang yang baik seperti Jokowi pasti terdapat yang membencinya.
4.      Menjelaskan dari awal mulanya jokowi yang bukan siapa-siapa kemudian menjadi orang no 1 di Indonesia.

Adapun sisi positif dari buku tersebut adalah:
1.    Pembahasan yang sering di ulang dan membuat pembaca jadi bosan.
2.    Masih banyak kesalahan dalam pengetikan (typo)
3.    Opini penulis masih sedikit.
4.    Terlalu banyak memasukan opini dari orang lain
Saran
1.      Lebih teliti lagi dalam pengetikan karena akan mempengaruhi pembaca, apabila kesalahan pengetikan terlalu banyak maka akan membuat pembaca terganggu ketika membaca.
2.      Penempatan pembahasan yang sering membuat bingung pembaca lebih di perhatikan lagi.
3.      Memasukan opini orang lain memang bagus, namun ketika terlalu banyak maka pembaca akan merasa bosan. Lebih baik memasukan opini sendiri yang lebih banyak.
Rekomendasi
            Buku ini sangat bagus untuk dibaca karena melalui buku ini kita dapat mengetahui sistem pemerintahan di Negara kita dan juga dapat mengenal sosok presiden kita dari berbagai sudut pandang.

Referensi
            MS, Ibad. N, (2015). JOKOWI DALAM CERMIN DUNIA: Antara Simpati dan Sinisme. Depok Timur: Papas Sinar Sinanti.

           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar