“JOKOWI
DALAM CERMIN DUNIA : Antara Simpati dan Sinisme”
Oleh
Sisca Nursholihat
PBI
B/4
Dalam chapter review ini penulis
akan mengupas mengenai isi buku “Jokowi Dalam Cermin Dunia: Antara Simpati dan
Sinisme” karya Nurul Ibad M.S yang membahas tentang biografi Presiden Republik
Indonesia ke-7 yaitu Joko Widodo dengan
gaya kepemimpinannya yang berbeda dari kepemimpinan sebelum-sebelumnya yang
membuat masyarakat Indonesia meyakini bahwa Joko widodo akan membawa Republik
Indonesia lebih baik lagi.
Terkait dengan penulisan chapter
review ini maka akan ada beberapa poin yang dibahas diantaranya sekilas tentang buku ” jokowi dalam cermin
dunia : antara simpati dan sinisme”,Gaya kepemimpinan Jokowi seperti Umar bin
Khatab, sisi positif dan negatif dari buk tersebut dan saran.Berikut ini
adalah penjelasannya.
Sekilas tentang buku
“Jokowi dalam cermin dunia: antara simpati dan Sinisme”
Ir. H. Joko Widodo
lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 21 Juni 1961 dari pasangan Noto Mihardjo dan
Sujiatmi Notomihardjo. Joko widodo dengan nama kecil Mulyono merupakan anak
sulung dari empat bersaudara. Pendidikannya diawali dengan masuk SD Negeri 1
Surakarta kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Surakarta dan SMA
Negeri 6 Surakarta. Selepas SMA, ia diterima di Fakultas Kehutanan Universitas
Gajah Mada, setelah menyandang gelar insinyur pada tahun 1985 ia bekerja di
BUMN PT Kertas Kraft Aceh. Kemudian pada
tahun 1986 Joko Widodo menikah dengan Iriana di Solo dan memiliki 3 orang anak
yaitu Gibran Rakabuming Raka, Kahiyang Ayu dan Kaesang Pangarep.
Pada tahun 1988, ia mulai merintis
usaha mebel dengan nama CV Rakabu. Seiring dengan perkembangan usahanya membuat
ia berkeliling ke berbagai daerah dan Negara dan Bertemu dengan Micl Romaknan
yang merupakan rekan bisnisnya asal Jerman dan memberinya panggilan yang hingga
kini begitu akrab ditelinga kita yaitu “Jokowi”.
Pertama kali jokowi masuk pada ranah
politik yaitu pada tahun 2005 ia maju pada Pilkada sebagai Calon wali kota
Surakarta yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan pasangan FX Hadi Rudyatmo dan
memenangkan Pilkada tersebut dengan perolehan suara 36,62 % dan dilantik menjadi walikota pada masa
jabatan 2005-2010. Setelah memimpin kota Solo pada masa jabatan 2005-2010
jokowi pun maju kembali pada pilkada berikutnya dan kembali berpasangan dengan
FX Hadi Rudyatmo dan memenangkan kembali Pilkada tersebut dengan perolehan
suara 90,09 %. Terpilihnya jokowi
menjadi wali kota Solo membuktikan bahwa masyarakat Solo merasa puas dengan
kinerja jokowi sehingga satu periode saja tidak cukup untuk menjadi wali kota.
Adapun gaya kepemimpinan jokowi ini
sangatlah berbeda dengan pemimpin-pemimpin yang lainnya, jokowi memiliki gaya
kepemimpinannya yang pragmatis dan membumi. Turun langsung ke lapangan dan
melihat langsung permasalahan yang ada (blusukan) untuk menemukan solusi yang
tepat. Berikut ini adalah prestasi-prestasi yang membuat nama jokowi begitu
dikenal masyarakat luas:
1. Branding “ Solo: the spirit of java”
sebagai anggota organisasi kota-kota arisan dunia tahun 2006.
2. Politik memanusiakan manusia.
3. Mobil karya Esemka yang menjadi mobil
dinas wali kota.
4. Menjadi tuan rumah festival musik dunia
(FMD) tahun 2007.
5. 10 tokoh terbaik dari 472 kabupaten
tahun 2008.
6. 25 besar Wali Kota terbaik di dunia.
Belum
habis masa jabatannya sebagai wali kota Solo, jokowi maju sebagai calon
gubernur DKI Jakarta karena diamanatkan langsung oleh Jusuf kalla dan
berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) kemudian memenangkan Pilkada
ini pada putaran kedua dengan perolehan suara 53,82 %. Perjalanan Jokowi untuk
menjadi Gubernur Jakarta tidaklah mudah karena banyaknya politikus-politikus
yang merasa tersingkirkan oleh Jokowi, belum lagi terdengar isu jokowi akan di
calonkan menjadi presiden pada pemilihan tahun 2014 padahal Jokowi baru saja 2
tahun menjabat sebagai Gubernur.
Namun,
mendengar masyarakat begitu antusias dengan isu tersebut maka membuat Megawati
Soekarno Putri sebagai ketua PDI-Pyakin apabila Jokowi maju pada PILPRES
kemungkinan besar menang akan terjadi. Dan majulah jokowi sebagai calon
presiden pada tanggal 14 Maret 2014 berpasangan dengan Jusuf kalla, dengan
majunya jokowi ke Pilpres membuat polemik warga jakarta karena Jokowi belum
menghabiskan masa jabatannya sebagai Gubernur dan pendapat Jokowi yaitu apabila
Jokowi menjadi Presiden maka akan lebih memiliki banyak wewenang mengurus
jakarta.
Adapun
visi misi jokowi dan jusuf kalla untuk menjadi presiden yaitu “ Jalan perubahan
untuk Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkpribadian”. Jokowi dan jusuf
kalla meyakini bahwa ada beberapa masalah pada bangsa ini yaitu merosotnya
kewibawaan Negara, melemahnya sendi perekonomian nasional, merebaknya
intoleransi dan krisis kepribadian bangsa. Maka diperlukan revolusi mental dari
negativisme menjadi postifisme melalui cara berpikir atau mindset, struktur dan
kultur.
Mendekati
pemilihan umum pun begitu banyak isu-isu miring tentang jokowi diantaranya
kampanye hitam yang menyebut jokowi adalah capres boneka. Namun, isu-isu
tersebut cepat ditangani oleh pihak yang berwenang. Dan terpilihlah jowoki dan
jusuf kalla sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia setelah
melewati beberapa polemik yang begitu rumit.
Gaya kepemimpinan
Jokowi seperti Umar Bin Khatab
Blusukan,
kata ini sudah tidak asing lagi ditelinga masyarakat indonesia karena blusukan
merupakan salah satu gaya dari Presiden RI ke -7. Begitu cepat meluas kata
blusukan ini menyebar luas karena jarang sekali para petinggi-petinggi negara
sudi untuk terjun langsung ke lapangan untuk melihat bagaimana kondisi negara
terlebih kepada rakyat kecil. Dan jokowi hadir ditengah-tengah kegelisahan
rakyat seolah menjadi penerang bagi rakyat kecil yang selama ini jarang
didengarkan aspirasinya.
Menelaah blusukan jokowi ke lapangan
mengingatkan penulis pada zaman kepemimpinan Khalifah Umar bin Khatab karena
keduanya sama-sama memiliki visi kepemimpinan yang merakyat dengan
kesederhanaannya dan membela rakyat demi kesejahteraan rakyat. Umar bin Khatab
pun tidak pernah memakai fasilitas negara dan selalu mendengarkan keluh kesah
rakyat dan selalu terjun langsun ke lapangan. Sama seperti Jokowi dalam
mencintai rakyatnya, kesederhanaan, gaya blusukan yang sangat populer dan
anaknya tidak pernah menggunakan nama
besar jokowi sebagai presiden. Mugkin, gaya kepemimpinan Khalifah Umar bin
Khatab tersebut yang ditiru oleh Jokowi.
Sisi positif dan
negatif dari Buku “ Jokowi dalam cermin dunia: antara simpati dan Sinisme”
Adapun sisi positif
dari buku tersebut adalah:
1. Penulis buku tersebut tidak hanya
menjelaskan sosok Jokowi dari satu sudut pandang saja melainkan dari berbagai
pandangan.
2. Tidak hanya menjelaskan sisi positif
dari jokowi saja namun dari sisi negatif juga.
3. Penulis tersebut membawa sang pembaca bahwa
setiap seorang yang baik seperti Jokowi pasti terdapat yang membencinya.
4. Menjelaskan dari awal mulanya jokowi
yang bukan siapa-siapa kemudian menjadi orang no 1 di Indonesia.
Adapun
sisi positif dari buku tersebut adalah:
1. Pembahasan yang sering di ulang dan
membuat pembaca jadi bosan.
2. Masih banyak kesalahan dalam pengetikan
(typo)
3. Opini penulis masih sedikit.
4. Terlalu banyak memasukan opini dari
orang lain
Saran
1. Lebih teliti lagi dalam pengetikan
karena akan mempengaruhi pembaca, apabila kesalahan pengetikan terlalu banyak
maka akan membuat pembaca terganggu ketika membaca.
2. Penempatan pembahasan yang sering
membuat bingung pembaca lebih di perhatikan lagi.
3. Memasukan opini orang lain memang bagus,
namun ketika terlalu banyak maka pembaca akan merasa bosan. Lebih baik
memasukan opini sendiri yang lebih banyak.
Rekomendasi
Buku ini sangat bagus untuk dibaca karena melalui buku ini kita dapat
mengetahui sistem pemerintahan di Negara kita dan juga dapat mengenal sosok
presiden kita dari berbagai sudut pandang.
Referensi
MS, Ibad. N, (2015). JOKOWI DALAM CERMIN DUNIA: Antara Simpati
dan Sinisme. Depok Timur: Papas Sinar Sinanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar