Name: Hayatun Nufus
Class : TBI-B/4
NIM: 1414133130
SEJARAH PENDIDIKAN INDONESIA
Karya : Prof.
Dr. S. Nasution, M.A.
Bangsa portugis memperlihatkan semangat yang tinggi untuk koloniasi
dan usaha misi. Berlainan dengan orang belanda, mereka lebih ingin untuk
menyebarkan agama, bahasa dan kebudayaan di kalangan orang Indonesia. Berkenaan
dengan bahasa mereka, orang portugis mencapai lebih banyak dalam beberapa
dekade daripada orang Belanda dalam bebrapa abad.Sekolah yang didirikan oleh
VOC juga tidak berkembang menjadi sistem pendidikan yang lengkap, akan tetapi
tetap bersifat elementer dan bercirikan agama. Diskriminasi rasial tampaknya
tidak menimbulkan masalah pendidikan selama periode VOC karena sedikitnya
jumlah anakBelanda. Setelah permulaan yang akif, perkembangan pendidikan hampir
lenyap sewaktu VOC dibubarkan pada tanggal 31 Desember 1799.
Selama setengah abad pertama pada abad ke-18 pendidikan hanya
disediakan untuk anak-anak Belanda, terutama anak Indo-Belanda agar memberikan
kepada mereka kesadaran akan kebangsaannya sebagai orang Belanda. Pada akhir
abad itu tercapailah taraf pendidikan universal bagi anak-anak mereka dengan
kesempatan memasuki pendidikan tinggi di negeri Belanda. Pendidikan cepat
berkembang di bawah Menteri jajahan yang liberal, fransen van de putte.
Perluasan daerah jajahan dengan pendudukan kepulauan di luar jawa dan
perkembangan perusahaan-perusahaan swasta sebagai akibat Undang-undang Agraria
pada tahun 1870.
Krisis ekonomi pada tahun 1880-an menyebabkan kemerosotan kemajuan
pendidikan bahkan dipertanyakan apakah ada faedah pendidikan bagi rakyat biasa.
Juga disarankannya perbedaan pendidikan bagi anak aristokrasi dengan anak orang
biasa dan menyerahkan pendidikan rakyat banyak ke dalam usaha swasta dan
misionaris. Bahasa Belanda memperoleh kedudukan yang penting sejak dijadikan
sebagai syarat untuk pengangkatan pegawai pemerintah dan kelanjutan pelajaran.
Enam ciri utama dari politik dan praktik pendidikan kolonial Belanda, yakni:
gradualisme, dualisme, kontrol pusat yang ketat, pendidikan pegawai sebagai
peranan sekolah yang utama, prinsip konkordansi dan tidak adanya perencanaan
pendidikan yang sistematis mengenai anak-anak Indonesia.
Peraturan pemerintah tahun1818 mengharuskan diadakannya peraturan
yang perlu bagi pribumi tidak menghasilkan sekolah bagi anak Indonesia.
Peraturan pertama mengenai pendidikan dikeluarkan tahun 1871, yang memberikan
uraian yang panjang lebar tentang kurikulum pendidikan guru. Perkembangan pesat
sesuudah 1863 sewaktu ekonomi membubung tinggi di bawah menteri liberal Van De
Putte, segera terhenti setelah depresi ekonomi 1885. Peraturan 1871 segera
diganti dengan keputusan 1885 yang mengurangi biaya pendidikan dan
menyederhanakan kurikulum, yang akhirnya menghasilkan reorganisasi 1892. Sekolah rendah sebelum 1892 diizinkan
memperluas programnya sehingga mendekati rencana pelajaran Sekolah Guru, kecuali ilmu mendidik. Skolah
rendah yang semula dimaksud untuk pendidikan anak kaum priayi kemudian kebanyakan
dimasuki oleh anak-anak golongan rendah. Krisis ekonomi pada akhir abad ke-19
memaksa Belanda untuk mengadakan diferensiasi dalam pendidikan anak-anak
golongan atas dan golongan rendah.
Krisis gula pada tahun 1885 menimbulkan keadaan ekonomi yang sangat
menyedihkan karena menggantikan keuntungan menjadi kerugian. Maka pengeluaran
harus dibatasi secara ketat, dan biaya pendidikan perlu dikurangi. Perluasan
sekolah rendah dan sekolah guru yang dimulai tahun 1871 menjadi beban di luar
batas kemampuan pemerintah. Pada tahun 1887 W.P.Groenevelt, Direktur
pengajaran, agama, dan industri mengajukan usul yang akhirnya menghasilkan
reorganisasi sekolah tahun 1892. Groevenelt melihat dua kelemahan sekolah untuk
pribumi yang ada. Untuk memperbaiki kekurangan ini Groenevelt menganjurkan dua
jenis sekolah kelas satu ( Eerste Klasse School) untuk anak golongan atas yang
akan menjadi pegawai dan sekolah kelas dua ( Twede Klasee School) untuk
penduduk selebihnya. Selain itu kelemahan lain ialah bahwa sekolah-sekolah
tidak disebarkan mereka menurut pentingnya daerah Jawa misalnya mempunyai lebih
sedikit sekolah daripada daerah luar Jawa, khususnya Indonesia bagian Timur.
Syarat guru bagi kedua sekolah akan berbeda. Sekolah-sekolah yang
ada terbuka bagi anak dari semua golongan dan karena tidak sesuai bagi golongan
rendah terjadilah drop-out yang tinggi. Di lain pihak sekolah itu tidak memadai
bagi golongan atas yang menginginkan pendidikan yang setaraf dengan pendidikan
anak Belanda. Maka karena itu jumlah anak Indonesia yang memasuki ELS (Europese
Lagere School) makin bertambah yang merugikan pendidikannya sendiri dan
pendidikan anak-anak Belanda. Kurikulum ditentukan dalam peraturan tahun 1893
terdiri atas mata pelajaran yang berikut: membaca dan menulis dalam bahasa
daerah dalam huruf daerah dan latin, membaca dan menulis dalam bahasa melayu,
berhitung, ilmu bumi indonesia, ilmu alam, sejarah pulau tempat tinggal,
menggambar dan mengukur tanah.
Program sekolah yang lebih terperinci diberikan oleh Direktur
pengajaran agama, dan industtri dalam surat putusannya tahun 1894. Berhubung
dengan bahasa daerah diberikan tujuh macam program yakni bahasa melayu riau,
sunda, jawa, madura, mandailing, makasar dan bugis. Kelas satu dan dua mendapat
18 jam pelajaran seminggu, kelas tiga sampai kelas lima sebanyak 27 jam. Sebagai pengikut aliran politik etis pada
permulaan abad ke-20, pemerintah menyetujui penyebaran bahasa Belanda di
kalangan penduduk Indonesia. Peraturan masuk ELS yang diperlunak menyebabkan
bertambah derasnya arus masuk anak Indonesia ke ELS akan tetapi menimbulkan
reaksi yang lebih keras dari pihak orang belanda. Bahasa Belanda dimulai di
kelas tiga, untuk tiap sekolah diangkat dua orang Belanda, seorang yang
mengajar bahasa Belanda di kelas tertinggi selama 12 jam per minggu dan seorang
lagi di kelas tiga sampai lima sebanyak 5 jam seminggu. Selain itu bahasa
Belanda digunakan dalam mengajarkan berhitung, ilmu bumi, dan ilmu alam
sehingga praktis 20 dari 27 jam digunakan untuk mata pelajaran yang penting.
Pada tahun yang sama bahasa
Belanda juga dimasukkan kedalam kurikulum Kweekschool (sekolah guru).
Reorganisasi 1892 tidak segera membawa perubahan radikal dalam pendidikan guru.
Salah satu alasan ialah besarnya persamaan kurikulum sekolah kelas satu dengan
sekolah sebelumnya. Perbandingan antara kurikulum kweekschool dan sesudah 1892
tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok. Bahasa Belanda dan pendidikan
jasmani telah dihapuskan pada tahun 1884, akan tetapi mengukur tanah kembali
memasukkan anak priyayi untuk pekerjaan mereka di pemerintahan dan perusahaan swasta.Kurikulumnya
mula-mula tak berbeda dengan sekolah sebelum 1892. Pada tahun 1907 setelah
dimasukkannya bahasa Belanda sebagai mata pelajaran, sekolah ini berbeda dengan
sekolah kelas dua, sedangkan masa belajarnya diperpanjang menjadi 6 tahun. Namun
sekolah ini masih ketinggalan dibandingkan dengan ELS (sekolah rendah untuk
anak Belanda) dan dengan HCS (Hoolands Chinese School, sekolah rendah berbahasa
belanda untuk anak Cina).
Reorganisasi 1892 menciptakan dua jenis sekolah, sekolah kelas satu
terutama bagi anak golongan atas dan sekolah kelas dua untuk orang biasa. Namun
sekolah kelas dua tidak berkembang menjadi sekolah umum bagi seluruh rakyat dan
kemudian dipersoalkan apakah sekolah itu memang paling sesuai untuk pendidikan
rakyat umumnya. Perubahan pandangan timbul karena perkembangan sekolah ini yang
tak diduga sebelumnya. Walaupun lama sekolah ini pada tahun 1893 ditetapkan
tiga tahun, masih terbuka kemungkinan untuk memperluas programnya berdasarkan
rekomendasi komisi sekolah dan persetujuan inspektur. Menurut Statua 1983
program sekolah kelas dua terdiri setidak-tidaknya atas pelajaran membaca,
menulis dalam bahasa Melayu dan berhitung. Pelajaran agama dilarang walaupun
ruangan kelas dapat digunakan untuk pendidikan agama di luar jam sekolah.
Sekolah kelas dua mempunyai kurikulum yang sederhana harus dijaga
agar tetap lebih rendah daripada sekolah kelas satu. Pendidikan harus dikaitkan
dengan golongan sosial dan bertujuan bukan untuk meniadakan penggolongan
melainkan untuk lebih menegaskan perbedaan golongan itu. Kurikulum yang
sederhana ini tidak mengganggu keadaan sosial karena tidak memungkinkan
mobilitas sosial. Perkembangan sekolah
kelas dua menunjukkan bahwa pemerintah Belanda tidak mempunyai rencana yang
komprehensif tentang sistem pendidikan di Indonesia.
Guru-guru Belanda mengakui kemampuan anak-anak Indonesia dalam
segala matapelajaran, sekalipun semua pelajaran diselenggarakan dalam bahasa
Belanda. Prestasi akademis anak Indonesia tidak kalah dari anak-anak Belanda
seperti nyata dari presentase lulusan masuk HBS atau ujian pegawai rendah. ELS
menentukan pola sekolah rendah 7 tahun, yang kemudian diikuti oleh HCS dan HIS,
sehingga sekolah-sekolah khusus untuk pribumi seperti Volikschool dan
Vervolgschool senantiasa dalam keadaan tidak lengkap dan dengan demikian tidak
memperoleh kesempatan untuk kelanjutan pelajaran ke sekolah menengah. Selama
penjajahan Belanda tak kunjung terwujud sekolah menegah berbahasa Indonesia.
Kurikulum ELS yang sebagian besar ditetapkan di Nederland tak mungkin relevan
dengan dengan kebutuhan anak Indonesia. Namun ELS tetap dipertahankan demi
kepentingan segelintir anak yang mungkin kembali ke tanah airnya.
Politik etis mengembangkan keinginan akan pendidikan Barat.
Kebangkitan Asia, lemenangan negara asia atas negara barat dipandang sebagai
hasil penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi barat. Pembukaan HIS didukung
oleh ekonomi yang meningkat dan perluasan wilayah pemerintahan Belanda di luar
jawa, yang menyebabkan kebutuhan akan pegawai berpendidikan. Schakelschool yang
didirikan pada tahun 1927 lamanya 5 tahun dan menerima murid dari kelas 3
sekolah desa. Schakelschool ini disamakan dengan HIS jadi memberi hak untuk
memasuki MULO dan selanjutnya. Dalam teorinya dengan adanya schakelschool ini
setiap anak desa dapat memasuki universitas, di Indonesia maupun di Nederland.
Berbagai faktor mempengaruhi didirikannya MULO (1) murid-murid
Indonesia yang puluhan ribu jumlahnya pada sekolah kelas satu tak mungkin
dibiarkan begitu saja tanpa memberi kesempatan untuk melanjutkan pelajarannya.
Padahal anak Cina yang sebenarnya asing, telah lebih dahulu diberikan
kesempatan serupa itu. (2) berbagai kursus persiapan bagi calon-calon
pendidikan pegawai, ahli hukum, dokter dan sebagainya, ternyata tidak serasi
dan harus diganti dengan MULO. Sebelumnya hanya lulusan ELS yang diterima untuk
berbagai sekolah latihan itu yang menyebabkan membanjirnya anak-anak Indonesia
ke ELS. Jadi MULO juga dimaksud untuk membendung “invasi” anak anak Indonesia
ke ELS (3) MULO didirikan sebagai lambang pendidikan nonrasional.
Setelah membaca buku Sejarah Pendidikan Indonesia saya mendapat
wawasan baru, gagasan baru dan ilmu baru. Awal membaca buku sejarah pendidikan
indonesia ini dilihat dari cover membuat saya penasaran apa sih sejarahnya pendidikan
di Indonesia ini. Mengetahui bagaimana untuk menjadi seorang guru pada saat
itu, sangat dibutuhkan untuk menjadi seorang pendidik.
Setelah saya membaca buku Sejarah Pendidikan Indonesia buku ini
kurang/ tidak mempunyai ilustrasi gambar seperti penjelsana yang ada dibuku. Seharusnya
dalam beberapa halaman harus disertai gambar, supaya ada usaha untuk membuat
buku itu menarik dan memperbanyak minat anak untuk membacanya. Jenis penulisan
kata dalam buku Sejarah Pendidikan Indonesia juga masih biasa, sehingga pembaca
cepat bosan. Dari beberapa halaman ada bahasa yang belum dimengerti, selain itu
juga terdapat pengetikan teks yang salah.
Ilmu yang dapat diambil dari buku Sejarah Pendidikan Indonesia
semangat juang anak-anak untuk mencari ilmu dalam situasi apapun. Mengetahui
perubahan kurikulum dalam kurun waktu. Seharusnya penulis mencantumkan gambar
untuk menarik dan memperbanyak minat pembaca.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar