Name:
Taniya
(1414131063)
ELT
Department -3/B
SEJARAH PENDIDIKAN
INDONESIA
Judul
Buku: Sejarah Pendidikan Indonesia
Penulis:
Prof. Dr. S. Nasution, M.A.
Penerbit:
PT Bumi Aksara – Jakarta
1.
The Content of the Book
Buku yang terdiri atas sebelas bab
ini difokuskan pada sejarah pendidikan Indonesia pada periode 1892-1920.
Dikarenakan periode ini merupakan periode yang menarik sepanjang sejarah
perkembangan pendidikan. Pada masa inilah terbentuk suatu sistem pendidikan
yang lengkap, yang memungkinkan anak Indonesia belajar dari tingkat rendah
sampai tingkat yang tinggi, walaupun harus ditempuh dengan lika-liku
problematik dan “tekanan politis” dari pihak asing (penjajah). Pada periode ini
pula kita dapat melihat bagaimana pendidikan yang diberikan pemerintah Belanda
– yang membawa unsur politis – akhirnya
justru menjadi senjata untuk melenyapkan kolonialisme dari bumi Indenesia ini.
(Cover Belakang “Sejarah Pendidikan Indonesia”)
VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie) yang mulanya merupakan
perkumpulan dagang pada akhirnya ikut berperan dalam misi menyebarkan agama
mereka yaitu Protestan Calvisme. Tujuan mereka yaitu meniadakan agama Katolik
yang dibawa oleh Portugis. Usaha VOC inilah yang pada akhirnya membuahkan cikal
bakal berdirinya sekolah-sekolah pertama di negeri ini meskipun segala
sesuatunya harus terkait dengan unsur kegerejaan.
Pada
saat itu sekolah tidak membedakan ras. Semua kalangan dapat besekolah dengan
bebas meskipun dengan sistem pendidikan yang belum lengkap. Pada periode ini
sekolah-sekolah di Indonesia teru berkembang jumlahnya dan semakin aktif sampai
akhirnya VOC dibubarkan pada tanggal 31 Desember 1799 sekolah mengalami
kemunduran bahkan kekosongan atau tidak aktif lagi. Pendidikan baru kembali dibuka
pada abad ke-18 namun hanya untuk anak-anak Belanda. Anak-anak Indonesia
diizinkan untuk bersekolah (untuk golongan atas) pada saat terjadi Sistem Tanam
Paksa dengan tujuan mangawasi perkebunan pemerintah (yang diklaim oleh
Belanda).
Pendidikan
berkembang pesat di bawah menteri Fransen Van de Putte akibat Undang-undang
Agraria pada tahun 1870. Pada tahun 1880, terjadi krisis ekonomi yang akibatnya
memunculkan perbedaan pedidikan bagi anak aristokrasi dan anak orang biasa.
Pendidikan yang diberikan Belanda memiliki ciri antara lain yaitu gradualisme,
dualisme, kontrol pusat yang ketat, pendidikan pegawai sebagai peranan sekolah
utama, prinsip konkordansi, dan tidak adanya perencanaan pendidikan terhadap
anak –anak Indonesia.
Sampai
tahun 1892 sekolah bagi golongan rendah merupakan sekolah yang sederhana dengan
gedung dan fasilitas yang tidak memadai. Sekolah pada saat itu mengkhususkan
anak-anak Belanda dan anak-anak priyai yang nantinya akan dijadikan sebagai
pegawai pemerintahan. Sekolah pun hanya dikhususkan bagi anak laki-laki dan
tidak bagi anak perempuan. Setidaknya setelah tahun itu jumlah sekolah di luar
Jawa melebihi jumlah sekolah di Jawa. Sejak tahun 1877 perbandingannya yaitu
205:311. Akan tetapi setelah 1892 lambat laun Jawa dijadikan sebagai pusat
pendidikan.
Sekolah
Kelas Satu (Eerste Klasse School)
bagi anak golongan atas yang akan menjadi pegawai pemerintah dapat berjalan
selama lima tahun lamanya. Sedangkan Sekolah Kelas Dua (Twede Klasse School) bagi golongan rendah hanya dapat berjalan
selama tiga tahun saja. Kurikulum yang diajarkan yaitu membaca dam menulis
menggunakan bahasa daerah. Latin, dan melayu, berhitung, ilmu bumi Indonesia,
ilmu alam, sejarah pulau tempat tinggal, menggambar, dan mengukur tanah. Namun
hal itu masih belum bisa disamakan dengan ELS (Europese Lagere School) yang menjadi favorit saat itu. Baru pada
tahun 1912 Sekolah Kelas Satu berganti nama menjadi HIS (Holland Indlandse School) yang setara dengan HCS dengan waktu
tambahan belajar menjadi tujuh jam dan bahasa Belanda mulai diajarkan.
Pada
tahu 1907 berdirilah Sekolah Desa (Volksschcool)
sebagai perwujudan hasrat untuk memperluas sekolah bagi pemerintah. Sekolah
dibangun dan dipelihara oleh masyarakat. Sekolah Desa merupakan upaya
pendidikan terbesar yang dijalankan oleh Belanda di bawah pimpinan Gubernur
Jenderal Va Heuts untuk memberi kesempatan pada rakyat untuk dapat membaca,
menulis, berhitung, dan lainnya. Satu pelajaran yang tidak boleh diajarkan menurut
kurikulum yaitu pedagogik (mengajar). Tujuan Belanda menciptakan Sekolah Desa
yaitu memberantas buta huruf negeri ini selama masih di bawah jajahan mereka.
Pada
hakikatnya pendidikan merupakan hal yang membahayakan yang sebenarnya telah
disadari oleh Belanda. Pendidikan hanya diberikan untuk memenuhi kebutuhan akan
pegai pemerintahan dan perusahaa-perusahaan Belanda. Seperti halnya sekolah ELS
yang dikhususkan untuk seleksi pegawai pemerintah. Namun bagi anak dari
golongan rendah, memasuki sekolah dengan corak Barat merupakan suatu hal yang
mustahil, lagipula hal itu akan menjauhkan mereka dari kebudayaannya.
Selain
HIS, ELS, dan Sekolah Desa, masih ada satu sekolah lagi pada periode itu yaitu
HCS (Hollands Chinese School )yang
dikhususkan bagi anak-anak keturuna Cina di Indonesia. Mereka melekukan
persiapan belajar pada anak-anak usia lima tahun sebelum akan memasuki atau
mengikuti pelajaran di kelas satu. Hal khusus semacam ini tidak pernah
dilakukan oleh Belanda sebelumnya terhadap anak Indonesia. Hal ini merupakan
tujuan Belanda untuk mencegah ketidak-loyal-an orang Cina terhadap Belanda.
Karena perasaan takut itulah yang mendorong Belanda memberikan pendidikan
terbaik kepada mereka dan membuka kesempatan untuk memasuki perguruan tinggi
yakni MULO (Meer Uitgebreid Lager
Onderwijs), HBS (Hogere Burgerschool),
dan AMS (Algemene Middelbare School).
Pada
umumnya mata pelajaran yang diajarkan di perguruan tinggi ialah bahasa Belanda,
bahasa Inggris, bahasa Perancis, bahasa Jerman, bahasa Belanda, dan matematika.
Pada
tahun 1914 HIS diakui sama dengan ELS dan MULO disamakan dengan tiga tahun
pertama HBS. Hal ini dikarenakan HBS yang menganggap bahwa MULO dalam segala
hal masih kurang jika dibandingkan dengan HBS dan itulah yang menyebabkan
berdirinya AMS sebagai sekolah lanjutan dari MULO.
MULO
merupakan pendidikan pertama yang tidak mengikuti pola pendidikan di Belanda
tetapi tetap mengikuti pola pendidikan Barat. MULO menolak untuk mengkhususkan
agar hanya anak-anak Belanda yang diperkenankan belajar di sana. MULO adalah
lembaga pendidika untuk bangsa. Hubungan yang terjalin antara HIS dan MULO
menjadikan kerjasama agar HIS menyediakan kelas persiapan untuk memasuki MULO.
Sebelumnya MULO hanya menerima lulusan ELS. Oleh karena itu MULO disebut juga
sebagai sekolah lanjutan ELS. Hal itulah yang menyebabkan banyak anak-anak yang
ingin sekolah di ELS. Tujuan MULO yaitu memberikan dasar-dasar yang lebih baik
bagi pendidikan kejuaruan dan bagi lanjutan pelajaran.
Berbeda
dengan MULO, HBS di Indonesia dibentuk menurut model Netherland dan selalu
berkiblat ke arah sana. HBS adalah hasil reorganisasi pada tahun 1867 dari Gymnasium Koning Willem III. Gymnasium terbagi menjadi dua bagian
yaitu seksi A dan seksi B. HBS adalah nama lain dari seksi B setelah
reorganisasi tersebut yang tujuannya adalah memberi persiapan untuk akademi
militer di Delft dan akademi perdagangan dan industri selama empat tahun.
Dukungan
terhadap pendirian perguruan tinggi di Indonesia bertambah kuat. Perang Dunia I
yang menghalangi banyak lulusan HBS melanjutkan pelajarannya di negeri Belanda
membuat perguruan tinggi di Indonesia sangat urgen. Sebagai tindakan darurat
suatu lembaga untuk Pendidikan Tinggi mengumpulkan dana di Netherland untuk
membuka persiapan kursus dua tahun. Pada tahun 1919 dimulai pembangunan gedung
perguruan tinggi teknik yaituTechnische
Hogeschooldi Bandung yang secara resmi dibuka pada tahun 1920. Dengan ini
lengkaplah sistem pendidikan di Indonesia.
2.
The Positive and Negative
a. Positive
· Buku ini memberikan penjelasan yang
maksimal sebagai buku sejarah dengan penyertaan tahun-tahun di dalamnya.
· Buku ini bagus untuk di jadikan
referensi untuk memberikan pandangan yang luas bagi para peneliti sejarah.
· Memberikan pengetahuan baru bahwa
ternyata Belanda memberikan kesempatan pendidikan seluas-luasnya pada Indonesia
dengan dibukanya Sekolah Desa.
b. Negative
· Kata-kata yang digunakan dalam buku ini
sulit untuk dipahami.
· Kurun waktu kejadian yang tidak sesuai
urutan tahun sehingga mengharuskan pembaca membolak-balik ulang antara bab satu
dan lainnya.
· Kurangnya penjelasan apakah ada
tokoh-tokoh besar Indonesia yang lahir dari sekolah-sekolah Belanda tersebut.
3.
The Connection of the Book and ELT
Sejarah
pendidikan Indonesia membuktikan bahwa bahkan sebelum Indonesia merdeka,
pemerintah telah memberikan perhatian pada pembelajaran bahasa Inggris. Hal ini
terbukti dari muatan-muatan kurikulum terutama di sekolah tinggi seperti MULO,
HBS, dan AMS. Pemerintah telah menyadari bahwa bahasa Inggris merupakan salah
satu muatan penting selain bahasa Belanda dan Perancis mengingat MULO sendiri
adalah model sekolah yang mengikuti pola Barat dan bukan Belanda.
4.
Recomendation
Akan
lebih baik jika buku ini ditulis sesuai kurun waktu tahun dengan mengunakan
bahasa yang lebih lugas dan lebih mudah dimengerti oleh pembaca. Begitu pula disertai
dengan munculnya tokoh-tokoh Indonesia yang berpengaruh yang ikut serta
memperjuangkan pendidikan Indonesia. Meskipun buku ini hanya memfokuskan pada
sekolah-sekolah yang dibangun oleh Belanda namun memungkinkan bahwa tokoh yang
kemungkinan lahir dari sana. Hal ini dikarenakan pada cover belakang buku ini
menuliskan bahwa pendidikan juga berperan dalam meniadakan kolonialisme di
negeri ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar