We are B

This is our blog which consist our assignments and our activities during we together in English Departement IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Sejarah Pendidikan Indonesia Ade Lidiya Ningsih

“Sejarah Pendidikan Indonesia”
Oleh: Ade Lidiya Ningsih
1414131001
TBI – B / 4

Dalam review kali ini, terdapat ringkasan dari bab-bab yang terdapat dalam buku “Sejarah Pendidikan Indonesia” karyaProf. Dr. S. Nasution, M.A. Didalamnya terdapat sejarah mengenai sistem pendidikan di Indonesia yang terus berkembang sejak masa penjajahan hingga masa sekarang.
Pada dasarnya, Belanda menjadikan pendidikan sebagai alat untuk mewujudkan kepentingan kaum mereka. Salah satunya pendidikan dijadikan sebagai alat penyebaran agama. Pada masa itu guru bertugas untuk mengajarkan dasar agama Kristen, mengajarkan berdoa, bernyanyi, dan pergi ke gereja. Namun, pada masa-masa selanjutnya peraturan tersebut dihapuskan dan lebih menekankan pada pengajaran pendidikan Barat.
Pada masa VOC (Verenigde Oost-Indsche Compagnie), Belanda menginginkan keuntungan yang sebesar-besarnya dari Indonesia. Mereka memiliki metode yaitu dengan mempertahankan raja-raja untuk pemerintahan namun memonopoli hak dagang dan eksploitasi sumber alam. Tak banyak hal yang dilakukan Belanda untuk pendidikan kecuali untuk melenyapkan agama Katholik dan menyebarkan agama Protestan. Namun, tak ada hasrat untuk mempengaruhi orang Islam menjadi Kristen.
Guru mengajar berdasarkan pengajaran individual, murid menghadapke meja guru satu persatu dan menerima bantuan individual. Bahasa yang digunakan dalam pembelajaran ialah bahasa Melayu dan Portugis, karena bahasa Belanda sulit untuk dipelajari. Keadaan pendidikan pada pemerintahan VOC lebih buruk daripada pemerintahan Belanda.
Setelah VOC hancur, pendidikan diambil alih oleh pemerintah Belanda pada tahun 1816. Pendidikan dianggap sebagai alat untuk mencapai kemajuan ekonomi dan sosial. Sekolah pertama bagi anak Belanda didirikan pada tahun 1817 di Jakarta yang diberi nama European Lagere School (ELS). Banyak anak Indonesia maupun anak Cina yang masuk ke ELS. Oleh karena itu, pada tahun 1833 didirikan Eerste European Lagere School (ELS pertama) bagi anak Belanda yang menginginkan pendidikan yang lebih bermutu dan tidak ingin bercampur dengan anak Indonesia.
Sekolah menengah didirikan tahun 1860 yang bertujuan agar anak Belanda dapat melanjutkan ke universitas atau memiliki jabatan tinggi dalam pemerintahan. Pendidikan ditujukan pada perkembangan kemampuan intelektual, nilai-nilai rasional dan sosial.Hal tersebut berbeda dengan pendidikan bagi anak Indonesia atau bumiputera.
Pada tahun 1848 untuk pertama kalinya pemerintah memberikan anggaran untuk pendirian sekolah bumiputera. Pendirian sekolah tersebut bertujuan agar banyak pegawai rendahan yang murah untuk menjaga perkebunan pemerintah. Terdapat peraturan pemerintah yang menginstruksikan agar didirikan sekolah di tiap kabupaten untuk anak pribumi. Selain itu, terdapat pula politik etis yang memiliki inti pendidikan dan emansipasi bangsa Indonesia secara berangsur-angsur.
Sebelum reorganisasi pada tahun 1892, mata pelajaran yang diajarkan sekolah rendah kepada anak Indonesia atau bumiputera ada empat, yaitu: membaca, menulis, bahasa dan berhitung. Bahasa yang digunakan dalam pembelajaran adalah bahasa daerah atau bahasa Melayu. Agama sendiri tidak diajarkanpada saat itu. Para bumiputera belajar dalam ruangan kecil yang kurang penerangan dan ventilasi dan sering pula bocor. Buku-buku yang diajarkan dicetak oleh pemerintahnamun dikarang oleh orang Belanda. Buku pelajaran terkesan membosankan dan tidak menariksehingga tidak menumbuhkan minat baca.
Sekolah yang sudah ada dianggap kurang sesuai bagi rakyat biasa maupun calon pegawai. Oleh karena itu, Groenevelt berpendapat agar dibangun dua jenis sekolah, yaitu Sekolah Kelas Satu untuk anak golongan atas (calon pegawai) dan Sekolah Kelas Dua untuk rakyat biasa. Peraturan pemerintah tahun 1894 mengubah sekolah rendah yang ada menjadi Sekolah Kelas Satu dan Sekolah Kelas Dua. Kurikulum Sekolah Kelas Satu lebih luas daripada Sekolah Kelas Dua. Akan tetapi, buku yang digunakan kebanyakan buku-buku Sekolah Kelas Dua. Kurangnya guru Belanda di sekolah tersebut memaksa pemerintah untuk menjadikan guru Indonesia menjadi diploma. Kemudin staf guru memiliki kualitas yang sama karenaguru-guru Indonesia dituntut untuk memiliki kemampuan yang sama dengan guru Belanda.
Adapun kurikulum di Sekolah Kelas Dua hanya meliputi membaca, menulis dan berhitung. Namun, tak lama kemudian programnya diperluas dan sekolah ini menjadi sama dengan Sekolah Kelas Satu. Hal tersebut menimbulkan beberapa kekhawatiran bagi pemerintah. Oleh karena itu, Sekolah Kelas Dua dianggap tidak sesuai untuk pendidikan rakyat dan pada 1907 didirikanlah Sekolah Desa. Pada saat itu, sekolah tersebut didirikan untuk menekan anggaran pendidikan.
Setelah itu, Sekolah Kelas Dua menjadi sekolah yang memberikan lanjutan pendidikan dua tahun bagi lulusan Sekolah Desa atau disebut dengan Vervolgschool. Seiring berjalannya waktu, Sekolah Desa (Volksschool) bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sekolah Desa ini merupakan usaha Belanda yang paling berhasil daripada sekolah yang lainnya.
Pada tahun 1914 Sekolah Kelas Satu diubah menjadi Hollands Inlandse School (HIS) dengan kurikulum yang lebih berpusat pada Belanda. Namun sebelum itu, pada 1908 telah didirikan Hollands Chinese School (HCS) yaitu sekolah bagi anak Cina. Adanya HCS menjadi faktor pendorong didirikannya HIS.
Selain sekolah-sekolah tersebut, ada pula sekolah lanjutan bagi lulusan ELS yaitu Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Namun MULO bukanlah sekolah menengah melainkan sekolah rendah. Guru yang mengajar disana hanyalah guru Belanda. MULO sendiri memiliki fungsi untuk memberikan pendidikan kejuruan yang lebih baik.
Adapun sekolah menengah didirikan pada 1839 dengan nama Gymnasium Koning Willem III. Sekolah tersebut berganti menjadi Hogere Burgerschool (HBS)pada 1867 dengan kurikulum yang sama persis dengan sekolah yang berada di Belanda. Persyaratan untuk memasuki HBS dirasa cukup sulit oleh anak Indonesia. Oleh karena itu, didirikanlah Algemene Middlebare School (AMS) pada tahun 1919 sebagai lanjutan dari MULO. Pada 1920 dibuka perguruan teknik di Bandung, Technische Hogeschool yang sekarang ini dikenal sebagai ITB.

Buku “Sejarah Pendidikan Indonesia” sangat direkomendasikan untuk para pelajar karena dalam buku ini terdapat nilai-nilai nasionalisme mengenai pentingnya pendidikan. Setelah membaca buku ini diharapkan pelajar lebih bersemangat dalam menempuh pendidikan tanpa melupakan nasionalisme mereka.


Hal positif yang dapat diambil dari buku tersebut antara lain:
·      Mengetahui sejarah pendidikan dan lembaga pendidikan pada masa kolonial.
·      Mengetahui perkembangan sistem pendidikan di Indonesia sejak masa VOC sampai didirikannya perguruan tinggi pertama.
·      Mengetahui sulitnya perjuangan untuk mendapatkan pendidikan yang layak pada zaman kolonial.
·      Mengetahui sedikit banyak tentang politik pendidikan yang dilakukan kolonial Belanda untuk kepentingan mereka sendiri.
·      Mengetahui bahwa pendidikan merupakan hak bagi seluruh rakyat.


Hal negatif dari buku tersebut antara lain:
·      Pendidikan digolongkan berdasarkan status sosial.
·      Dibatasinya perempuan dalam hal pendidikan.
·      Dibatasinya pendidikan bagi rakyat biasa.
·      Adanya monopoli tenaga pengajar di kalangan Belanda.
·      Pendidikan digunakan sebagai alat penyebaran agama.



Ilmu yang dapat diambil dari buku tersebut antara lain:
·      Pendidikan merupakan faktor utama dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat.
·      Lebih menghargai jasa pahlawan kemerdekaan.
·      Lebih mensyukuri keadaan terutama pendidikan pada masa sekarang.
·      Berjuang sebaik mungkin untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya, karena tidak mudah mendapatkan pendidikan seperti sekarang ini.
·      Mengingatkan betapa pentingnya pendidikan dalam kemajuan suatu negara.


Saran terhadap buku tersebut antara lain:
·      Bahasa yang digunakan lebih disesuaikan dengan EYD agar pembaca mudah memahami bacaan.
·      Susunan bab dalam buku tersebut lebih sistematis sesuai dengan urutan didirikannya sekolah-sekolah tersebut.
·      Adanya bagan yang menggambarkan perkembangan pendidikan dalam buku tersebut agar pembaca tidak bingung.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar