We are B

This is our blog which consist our assignments and our activities during we together in English Departement IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Senin, 07 Maret 2016

Jokowi Millati Azka

Jokowi dalam cermin dunia
Antara simpati dan sinisme
Resensi oleh: Millati Azka
ELT/ B/ 4

              Buku ini secara garis besar merupakan pembahasan mengenai sosok pro-kontra yang sudah lama menjadi buah bibir masyarakat Indonesia. Nama “jokowi” sudah tak asing lagi di dunia politik negri ini. Sikap teladan, kesederhanaan, dan suka berbaur dengan masyarakat ini ternyata tetap tak mampu mengelakan pro kontra dari masyarakat hingga para politisi. “blusukan” ala Jokowi ternyata banyak menuai kritik pedas. Banyak masyarakat yang menganggap bahwa kegiatan jokowi tersebut hanya buang- buang waktu dan pencitraan belaka. Buku ini juga akan megantarkan pembaca pada biografi Jokowi Dodo sebagai presiden RI yang ke-7. Penulis dengan cermat mengumpulkan informasi terkait pro-kontra pada sosok Jokowi dari berbagai sumber dan media.
              Ir. H. Jokowi Dodo merupakan suami dari Iriana dan sekaligus sebagai ayah dari tiga orang anak yakni Gibran Rakabuming Raka (1988), Kahiyang Ayu (1991) dan Kaesang Pangarep (1995). Beliau lahir pada tanggal 21 juni 1961 di Jawa Tengah.  Beliau adalah anak pertama dari empat bersaudara. Jokowi menempuh pendidikannya di SDN 111 Tirtoyoso, SMPN 1 Surakarta, dan SMAN 6 Surakarta. Selepas SMA beliau melanjutkan pendidikannya di Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Beliau meraih gelar Insinyurnya pada tahun 1985.
              Jokowi memulai perjalanan politiknya pada tahun 2005. Ia maju sebagai calon Wali Kota Solo dari partai PDI-P dan PKB. Ia berpasangan dengan FX Hadi Rudyatmo. Beliau berhasil menjabat sebagai Wali Kota Solo dengan masa jabatan 2005- 2010. Setelah masanya berakhir, beliau kembali terpilih sebagai wali kota Solo pada periode 2010- 2015.
              Mantan Wakil presiden Jusuf Kalla mengusungkan okowi Dodo sebagai Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2012 berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama untuk masa bakti 2012- 2017. Di tengah masa jabatannya sebagai gubernur DKI Jakarta yang baru berjalan selama 2 tahun, ia kembali diusungkan sebagai calon Presiden RI. Kali ini beliau akan berpasangan dengan Jusuf Kalla. Pasangan yang dikenal dengan “salam dua jari” ini didukung oleh partai PDI-P, Nasdem, PKB dan Hanura. Beliau berhasil menduduki kursi Presiden dan dilantik menjadi Presiden RI yang ke-7 pada 20 oktober 2014.
              Selain berusaha untuk menata perkembangan Indonesia secara fisik, Presiden Jokowi Dodo juga menghendaki adanya revolusi mental pada masyarakat. Banyak dari kalangan masyarakat yang salah mengartikan revolusi mental ala jokowi. Masyarakat menduga bahwa  revolusi mental adalah jalan bagi terbelahnya kalangan masyarakat mejadi masyarakat kalangan atas dan masyarakat kalangan bawah. Selain itu ada juga yang berpendapat bahwa revolusi mental merupakan faham komunis yang diadopsi dari Filsuf Atheis Young Hegalian, Berlin. Bagi mereka, revolusi mental merupakan program cuci otak yang akan memuluskan perkembangan komunitas Komunis Eropa.
              Dalam hal ini penulis mejelaskan bahwa Indonesia bukanlah negara komunis yang berlandaskan Atheisme. Revolusi mental bagi jokowi adalah usaha yang dilakukan jokowi untuk memperbaiki pola pikir masyarakat indonesia. Kemajuan bangsa ada di tangan rakyat itu sendiri. Rakyat yang berani maju adalah rakyat yang berani mengubah pola pikir menjadi lebih bersih bebas dari korupsi, kolusi, nepotisme, mencegah bobroknya birokasi, dan menegakan kedisiplinan. Jadi yang perlu dirubah adalah mind set, bukan isme- ismenya.
              Penulis menambahkan keterangan kuat bahwa revolusi mental Indonesia bukanlah hal baru untuk diperdebatkan. Ini adalah hal positif yang harus digaris bawahi oleh para pembaca sebagai wahana pengantar dalam pembenahan diri pribadi sebagai warga Negara Indonesia. Presiden Soekarno telah menggadang-gadangkan revolusi mental pada pidato proklamasinya pada tahun 1962. Selai itu presiden Soekarno juga meneruskan pidato revolusi mentalnya yang merupakan konsep Tri Sakti pada tahun 1963. Presiden Soekarno menyatakan bahwa ada tiga pilar yakni “Indonesia yang berdaulat secara politik”, “ Indonesia yang berdaulat secara ekonomi”, dan “Indonesia yang berkepribadian secara sosial-budaya”. Bagi soekarno pada saat itu Indonesia baru bebas dari penjajahan secara fisik, namun secara mental masih terjajah. Informasi dari penulis haruslah diadopsi para pembaca untuk meningkatkan kualitas kepribadian sebagai warga negara. Pada dasarnya revolusi mental merupakan upaya memerdekakan masyarakat itu sendiri.
              Meninggalkan revolusi mental, kegitan Jokowi yang hobi “blusukan” juga dicerca banyak kalangan. Banyak tudingan Jokowi hanyalah melakukan pencitraan untuk menangkap banyak simpati masyarakat. Bagi kaum kontra, “blusukan” adalah kegiatan membuang waktu tanpa memberikan solusi. Namun tudingan miring tersebut dibantah oleh Jokowi. Baginya, dengan terjun langsung kepada masyarakat, Jokowi menjadi lebih faham apa yang dibutuhkan oleh masyarakat, keluh kesah masyarakat dan harapan masyarakat terhadap pemerintah. “blusukan” merupakan upaya survey yang membantu kinerja Jokowi menjadi efektif dan tepat sasaran.
              Tidak hanya survey masyarakat dalam menata kota, Jokowi juga kerap kali mengunjungi para korban bencana seperti, Erupsi Gunung Sinabung, longsor Banjar Negara, dan jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501. Tujuan Jokowi “blusukan” di lokasi bencana adalah untuk memantau langsung keadaan lokasi. Sehingga dalam hal ini Presiden Jokowi secara tepat sasaran memberikan komando-komando pada badan yang terkait guna memberikan bantuan darurat bagi para korban bencana.
              Sisi negatif dari buku ini adalah informasi-informasi sinisme yang disetujui oleh kaum yang kontra terhadap Jokowi Dodo. Kontra merupakan hal yang wajar terjadi pada setiap kalangan. Namun kontra bisa jadi sebuah sisi negatif apabila dikupas dengan kata-kata yang tidak layak untuk di utarakan kepada publik. Seperti Ali Muchtar Ngabalin, juga pernah menyoroti kondisi jokowi yang kurus. Dalam suatu kampanye pemenangan Prabowo-Hatta di Papua ia menyatakan agar “jangan pilih calon presiden yang kurus kerempeng.” Selain itu juga Fahri Hamzah (wakil sekjn PKS), melalui akun twitternya @fahrhamzah pada 27 juni 2014 sekitar pukul 10.40 fahri menuliskan “jokowi janji 1 muharram hari santri. Demi dia terpilih, 360 hari aka di janjika ke semua orang. Sinting!”. Sangat berbeda dengan yang dikatakan oleh buya Syafi’i Ma’arif (mantan ketua PP Muhammadiyah) menyatakan bahwa “meski Jokowi kerempeng tapi otaknya besar dan bekerja”.
              Seirama dengan peribahasa “semakin tinggi pohon maka semakin kencang pula angin berhembus”, cibiran dari berbagai kalangan ternyata tak mampu membendung prestasi dan apresiasi dunia terhadap pencapaian jokowi sebagai pemerintah. Seyogyanya pembaca tidak melihat siapa yang berprestasi, namun lihatlah prestasi tersebut untuk menjadi referensi pemicu semangat. Dalam kiprahnya di dunia pemerintahan, jokowi berhasil menyabet berbagai piala dan penghargaan diantaranya adalah kota dengan tata ruang terbaik kedua di Indonesia, piala citra bidang pelayana prima nasional, penghargaan pengelolaan keuangan yang baik, penghargaan dari UNICEF untuk program perlindungan anak, Grand award layanan publik pendidikan, penghargaan langit biru, bung hatta Anticorruption Award dan lain-lain.
              Selain piala dan penghargaan, penulis menambahkan kesan positif berupa apresiasi yang turut diutarakan dari tokoh-tokoh dunia dalam mendukung perjalanan Jokowi. SepertiPark Geun-hye adalah Presiden Korea selatan ke-11, beliau mengatakan “saya dengar sekarang yang mulia melakukan blusukan dan e-blusukan untuk reformasi negaranya. Saya berharap semua masyarakat Indonesia ikut dalm pikiran yang mulia, agar menghasilkan peningkatan perkembangan Indonesia bisa diwujudkan”. Selain presiden Korea Selatan, Greg Fealy (associate professor di Australian National University) berpendapat bahwa Jokowi meupakan polotisi yang cukup bersih dan cukup reform minded. Jokowi siap menerima kemarahan rakyat dalam menentukan kebijakannya. Seperti memangkas subsidi BBM untuk dialokasikan pada sektor kesehatan, pendidikan dan infrastruktur.
Kesimpulan
              Perjalanan jokowi sebagai wong cilik menuai banyak pro dan kontra. Jokowi memiliki basic berlian untuk bisa menjadi Presiden Indonesia. Kepantasan itu dilihat dari banyaknya prestasi yang telah dicapai pada masa pemerintahan Jokowi di Solo. Namun dari sekian pencapaiannya, tudingan miring tak henti-hentinya menghampiri pribadi Jokowi. Kita tidak bisa menilai Jokowi dengan kaca mata pribadi. Kita perlu mempertimbangkan kinerja, prestasi dan pandangan dunia terhadap sosok ini. Penilaian obyektif bukanlah penilaian yang bersifat merendahkan dan bersifat fitnah. Siapapun tokohnya, sebagai pembaca haruslah pandai mengambil sisi baik sebagai motivasi dan menyisakan sisi buruk sebagai pelajaran berharga. Sehingga dalam hal ini baik pro maupun kontra dapat berjalan sesuai dengan porosnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar