We are B

This is our blog which consist our assignments and our activities during we together in English Departement IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Minggu, 06 Maret 2016

Metode Edutainment Linda Eka Lestari

Review Buku Edutainment karya Moh. Sholeh Hamid, S.Pd “Metode Tepat, Belajar pun Jadi Semangat”
Oleh Linda Eka Lestari
Pendahuluan
            Dalam essay yang saya tulis kali ini, saya akan membahas beberapa pokok bahasan yaitu tentang hal yang menjadi pokok bahasan dalam buku Edutainment karya Moh. Sholeh Hamid, S.Pd. Pertama, tentang konsep belajar yang dilakukan dengan cara edutainment. Kedua, tentang konsep pendidikan konvensional atau tradisional. Ketiga, tentang lingkungan yang baik bagi proses belajar. Keempat, tentang konsep pendidikan kolaboratif. Kelima, tentang konsep pendidikan interaktif.
Pembahasan
                        Dalam buku yang berjudul Edutaniment yang ditulis oleh Moh. Sholeh Hamid, S. Pd, dapat diketahui bahwa konsep belajar yang dilakukan oleh pengajar hendaknya student central learning yaitu pembelajaran yang menjadikan siswa sebagai subjek belajar, bukan teacher central learning atau pembelajaran yang dilakukan dengan menjadikan siswa sebagai objek dalam belajar. Hal  yang paling penting untuk dilakukan adalah menciptakan kenyamanan dan suasana yang menyenangkan bagi siswa. Sehingga siswa mampu menjadi pribadi yang berkembang ilmu dan pengetahuannya.  
Setiap insan yang pernah hidup di dunia ini pasti pernah mengalami duduk di bangku sekolah. Entah itu sekolah dasar atau menengah sekalipun. Ketika duduk di bangku sekolah, sebagian orang pasti mengalami jenuh atau bosan duduk di bangku kelas. Mereka pasti mencari alternatif lain untuk menghilangkan rasa jenuh dan bosan yang telah merayap kedalam diri dari masing-masing mereka. Beberapa alternatif yang sering sekali terjadi di kalangan siswa yaitu mengajak bicara teman sebangku, atau menyilangkan tangannya di atas meja lalu meletakkan kepala mereka kepada tangan yang disilangkan tersebut kemudian tertidur pulas tanpa mempedulikan guru yang sedang memberi penjelasan tentang suatu pelajaran. Hal ini merupakan sebuah gambaran bahwa belajar di sekolah adalah suatu yang sangat membosankan bagi para siswa di dalam kelas tersebut.
            Menanggapi masalah yang demikian, sebaiknya sang pendidik atau biasa disebut guru hendaknya mengganti metode yang digunakan. Misalnya metode ceramah pada minggu pertama, tetapi ada yang membedakan antara metode yang digunakan oleh guru A dengan metode yang digunakan oleh guru B. Sebagai contoh guru A menggunakan metode ceramah tetapi diselipi dengan humor yang membuat suasana menjadi cair dan menjadi menyenangkan. Tentunya akan berbeda dengan guru B yang mengginakan metode ceramah model biasa, hanya membawa buku pelajaran kemudian menerangkan. Tahukah apa yang terjadi? Siswa menjadi ngantuk dan proses belajar tak lagi menyenangkan. Oleh karena itu, sebagai calon pendidik harus pintar-pintar memilih strategi atau metode yang digunakan dalam proses belajar.
Lingkungan sekolah juga harus membenahi pola dalam mengajarkan ilmu kepada peserta didik. Dalam hal ini orang yang sangat bertanggung jawab atas bisa atau tidak bisanya seorang siswa yakni pendidik. Pendidik dituntut agar bisa beradaptasi dengan pola-pola pelajaran yang mudah dipahami oleh siswa sekaligus menyenangkan, sehingga siswa menjadi enjoy dengan pelajaran yang sedang dipelajarinya. Selain lingkungan sekolah, lingkungan kelas pun harus diubah dan ditata dengan sedemikian rupa. Menurut buku edutainment lingkungan kelas mempengaruhi kemampuan siswa untuk fokus menyerap informasi.
            Hal yang harus dilakukan ketika mendesain ruang kelas yaitu: Pertama, memasang gambar poster kata-kata motivasi tentang belajar agar dapat memotivasi para peserta didik untuk belajar lebih giat lagi. Kedua, mewarnai dinding dengan warna yang tepat, sehingga membuat siswa lebih nyaman dan betah berada di ruang kelas. Ketiga, mengatur denah bangku yang dapat mempengaruhi belajar siswa. Ada banyak formasi pengaturan bangku selain dengan gaya konvensional atau tradisional seperti yang biasa ditemui oleh sekolah-sekolah pada umumnya. Formasi-formasi itu adalah formasi auditorium, formasi chevron, formasi bentuk U, formasi konferensi, formasi meja pertemuan, formasi tempat kerja, formasi lingkaran, dan formasi-formasi lainnya.
Pada zaman ini, sesungguhnya siswa tidak bisa lagi di didik dengan metode yang kaku, menegangkan, tidak menyenangkan terlebih lagi dengan cara otoriter atau paksaan. (Hamid : 2014) Mengapa? Sebab jika mendidik siswa dengan cara atau metode seperti itu, maka yang akan dihasilkan dari cara itu hanyalah ketegangan yang akan membunuh mental setiap siswa. Akibatnya mereka takut untuk mengeksplor kemampuan diri, mereka terlalu takut untuk berekspresi karena apa yang mereka lakukan selalu salah di mata guru-guru mereka. Hal ini sangat tidak boleh terjadi karena bila itu terjadi maka sekolah akan menjadi tempat yang paling menyebalkan atau bisa menjadi neraka dunia bagi mereka. Naudzubillah.
            Pada hakikatnya manusia itu menyukai kesenangan, baik kesenangan yang bersifat lahiriyah maupun yang bersifat bathiniyah (Hamid : 2014). Begitupun dengan pendidikan yang harusnya memanusiakan manusia yang ada di dalamnya. Artinya harus bersifat menyenangkan sehingga siswa yang belajar seperti tidak belajar melainkan bermain, tetapi lewat bermain hal yang menyenangkan itu ternyata bisa menjadikan manusia yang cerdas, bebas berekspresi tanpa ragu dan menjadi diri sendiri. Siswa akan nyaman di sekolah dan menjadikan sekolah menjadi rumah kedua mereka dalam proses belajar.
            Konsep yang memiliki sifat menyenangkan ini disebut dengan konsep edutainment. Konsep edutainment ini belum populer di dunia pendidikan. Menurut salah satu sumber menyebutkan bahwa edutainment merupakan judul dari produksi album keempat kelompok hip hop Boogie Down yang dirilis pada tahun 1990. Kata ini juga digunakan  dalam acara radio kenamaan di Knoxiville TN yang berjudul The Edutainment Hip Hop Show (Hamid : 2014).
            Model pembelajaran konvensional atau tradisional sudah terlalu ketinggalan zaman apabila disandingkan dengan model-model pembelajaran yang lainnya, seperti model pembelajaran kolaboratif. Mengapa demikian? Alasannya cukup sederhana, yaitu jika masih menggunakan model konvensional atau tradisional, maka akan selamanya proses pembelajaran itu hanya guru yang aktif sementara siswa hanya manut pada setiap kata-kata atau perintah seorang guru. Dalam hal ini proses pembelajaran seperti bank, dimana guru adalah nasabah yang menabung sementara siswa adalah tempat atau wadahnya (tabungan). Paulo Freire menyebut pendidikan semacam itu dengan  istilah the banking concept of education, yakni pembelajaran yang dilakukan dengan gaya bank seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Hal ini sangatlah dihindari dalam proses pembelajaran dengan pola edutainment.
            Sementara model pembelajaran kolaboratif merupakan metode pembelajaran yang menerapkan paradigma baru dalam teori-teori belajar. Pembelajaran kolaboratif mendasarkan diri pada teori Piaget, yaitu teori konstruktivis (constructivist theory) yang memperkenalkan gagasan tentang pembelajaran aktif (active learning). Dalam hal ini ada tiga teori yang mendukung metode belajar kolaboratif yaitu teori kognitif, teori konstruktivisme sosial, dan teori motivasi (Hamid : 2014).
            Teori kognitif terjadi karena ada pertukaran informasi dalam kelompok, sehingga transformasi pengetahuan terjadi pada masing-masing individu dalam kelompok itu. Kemudian teori konstruktivisme sosial terjadi karena adanya interaksi sosial antara anggota atau masing-masing individu sehingga akan membantu perkembangan individu dan meningkatkan sikap saling menghormati pendapat setiap anggota dalam kelompok. Teori motivasi teraplikasi dalam struktur pembelajaran kolaboratif, karena pembelajaran tersebut akan memberikan lingkungan yang kondusif untuk belajar, menambah keberanian semua anggota untuk memberikan pendapat dan menciptakan situasi saling memerlukan pada setiap anggota dalam kelompok.
            Dalam pembelajaran kolaboratif peran guru sangatlah penting, akan tetapi tidak dominan. Pada model ini siswa diberikan kebebasan untuk menyampaikan pendapat untuk menguji keberanian siswa menanggapi, menyimpulkan atau mengomentari tentang sebuah topik yang mungkin sekarang sedang marak diperbincangkan. Tetapi metode ini mempunyai sisi yang kurang baik yang menimbulkan konflik masing-masing individu di dalam kelas. Ketika model pembelajaran ini diterapkan faktanya kelas akan sedikit gaduh bila dibandingkan dengan cara belajar tradisional.
                Konten yang terakhir dalam buku edutaniment ini yaitu metode pembelajaran interaktif. Dalam metode ini pembelajaran lebih ditekankan pada proses interaksi siswa dengan guru yang bersifat menyenangkan dan memberdayakan. Dalam hal ini, sifat menyenangkan dan memberdayakan dalam belajar terjadi apabila interaksi antara guru dan siswa memadukan prinsip pendidikan dan hiburan (edutainment), sehingga siswa akan merasa terhibur tanpa sadar ia sedang mengikuti proses pembelajaran.
            Menurut Moh. Sholeh Hamid, ada bermacam-macam metode belajar yang bersifat interaktif, diantaranya yaitu: metode ceramah, metode proyek, metode eksperimen, metode pemberian tugas dan pembacaan, metode diskusi dan metode latihan. Tentunya dari masing-masing metode memiliki kekurangan dan kelebihan dalam penggunaannya. Metode ini pun mengajarkan materi dengan konsep yang menyenangkan yaitu dengan menggunakan permainan.
Penutup
            Dapat disimpulkan bahwa banyak pelajaran yang dapat saya ambil dari buku karangan bapak Hamid, yaitu saya sebagai seorang calon pendidik, saya memperoleh banyak ilmu serta metode dalam menghadapi cara belajar siswa yang unik setelah membaca buku Edutainment ini. Selain itu buku ini juga menggunakan bahasa Indonesia yang sangat mudah dipahami, sehingga menimbulkan motivasi saya untuk membaca hingga halaman terakhir. Namun sayangnya pembahasan buku Edutainment ini saya kira terlalu banyak mengulang kalimat yang pada halaman yang sudah dibahas sebelumnya. saya menyarankan kepada pembaca buku Edutainment agar membaca buku yang membahas tentang metode mengajar agar memiliki pengetahuan yang lebih luas.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar