Review Buku Edutainment karya Moh.
Sholeh Hamid, S.Pd “Metode Tepat, Belajar pun Jadi Semangat”
Oleh Linda Eka Lestari
Pendahuluan
Dalam
essay yang saya tulis kali ini, saya akan membahas beberapa pokok bahasan yaitu
tentang hal yang menjadi pokok bahasan dalam buku Edutainment karya Moh.
Sholeh Hamid, S.Pd. Pertama, tentang konsep belajar yang dilakukan dengan cara edutainment.
Kedua, tentang konsep pendidikan konvensional atau tradisional. Ketiga,
tentang lingkungan yang baik bagi proses belajar. Keempat, tentang konsep
pendidikan kolaboratif. Kelima, tentang konsep pendidikan interaktif.
Pembahasan
Dalam buku yang berjudul Edutaniment
yang ditulis oleh Moh. Sholeh Hamid, S. Pd, dapat diketahui bahwa konsep
belajar yang dilakukan oleh pengajar hendaknya student central learning yaitu
pembelajaran yang menjadikan siswa sebagai subjek belajar, bukan teacher
central learning atau pembelajaran yang dilakukan dengan menjadikan siswa
sebagai objek dalam belajar. Hal yang
paling penting untuk dilakukan adalah menciptakan kenyamanan dan suasana yang
menyenangkan bagi siswa. Sehingga siswa mampu menjadi pribadi yang berkembang
ilmu dan pengetahuannya.
Setiap insan yang pernah hidup di dunia ini
pasti pernah mengalami duduk di bangku sekolah. Entah itu sekolah dasar atau
menengah sekalipun. Ketika duduk di bangku sekolah, sebagian orang pasti
mengalami jenuh atau bosan duduk di bangku kelas. Mereka pasti mencari
alternatif lain untuk menghilangkan rasa jenuh dan bosan yang telah merayap
kedalam diri dari masing-masing mereka. Beberapa alternatif yang sering sekali
terjadi di kalangan siswa yaitu mengajak bicara teman sebangku, atau
menyilangkan tangannya di atas meja lalu meletakkan kepala mereka kepada tangan
yang disilangkan tersebut kemudian tertidur pulas tanpa mempedulikan guru yang
sedang memberi penjelasan tentang suatu pelajaran. Hal ini merupakan sebuah
gambaran bahwa belajar di sekolah adalah suatu yang sangat membosankan bagi
para siswa di dalam kelas tersebut.
Menanggapi
masalah yang demikian, sebaiknya sang pendidik atau biasa disebut guru
hendaknya mengganti metode yang digunakan. Misalnya metode ceramah pada minggu
pertama, tetapi ada yang membedakan antara metode yang digunakan oleh guru A
dengan metode yang digunakan oleh guru B. Sebagai contoh guru A menggunakan
metode ceramah tetapi diselipi dengan humor yang membuat suasana menjadi cair
dan menjadi menyenangkan. Tentunya akan berbeda dengan guru B yang mengginakan
metode ceramah model biasa, hanya membawa buku pelajaran kemudian menerangkan.
Tahukah apa yang terjadi? Siswa menjadi ngantuk dan proses belajar tak lagi
menyenangkan. Oleh karena itu, sebagai calon pendidik harus pintar-pintar
memilih strategi atau metode yang digunakan dalam proses belajar.
Lingkungan sekolah juga harus membenahi
pola dalam mengajarkan ilmu kepada peserta didik. Dalam hal ini orang yang
sangat bertanggung jawab atas bisa atau tidak bisanya seorang siswa yakni
pendidik. Pendidik dituntut agar bisa beradaptasi dengan pola-pola pelajaran
yang mudah dipahami oleh siswa sekaligus menyenangkan, sehingga siswa menjadi enjoy
dengan pelajaran yang sedang dipelajarinya. Selain lingkungan sekolah,
lingkungan kelas pun harus diubah dan ditata dengan sedemikian rupa. Menurut
buku edutainment lingkungan kelas mempengaruhi kemampuan siswa untuk
fokus menyerap informasi.
Hal
yang harus dilakukan ketika mendesain ruang kelas yaitu: Pertama,
memasang gambar poster kata-kata motivasi tentang belajar agar dapat memotivasi
para peserta didik untuk belajar lebih giat lagi. Kedua, mewarnai
dinding dengan warna yang tepat, sehingga membuat siswa lebih nyaman dan betah
berada di ruang kelas. Ketiga, mengatur denah bangku yang dapat
mempengaruhi belajar siswa. Ada banyak formasi pengaturan bangku selain dengan
gaya konvensional atau tradisional seperti yang biasa ditemui oleh
sekolah-sekolah pada umumnya. Formasi-formasi itu adalah formasi auditorium,
formasi chevron, formasi bentuk U, formasi konferensi, formasi meja pertemuan,
formasi tempat kerja, formasi lingkaran, dan formasi-formasi lainnya.
Pada zaman ini, sesungguhnya siswa tidak
bisa lagi di didik dengan metode yang kaku, menegangkan, tidak menyenangkan
terlebih lagi dengan cara otoriter atau paksaan. (Hamid : 2014) Mengapa? Sebab
jika mendidik siswa dengan cara atau metode seperti itu, maka yang akan
dihasilkan dari cara itu hanyalah ketegangan yang akan membunuh mental setiap
siswa. Akibatnya mereka takut untuk mengeksplor kemampuan diri, mereka terlalu
takut untuk berekspresi karena apa yang mereka lakukan selalu salah di mata
guru-guru mereka. Hal ini sangat tidak boleh terjadi karena bila itu terjadi
maka sekolah akan menjadi tempat yang paling menyebalkan atau bisa menjadi
neraka dunia bagi mereka. Naudzubillah.
Pada
hakikatnya manusia itu menyukai kesenangan, baik kesenangan yang bersifat lahiriyah
maupun yang bersifat bathiniyah (Hamid : 2014). Begitupun dengan
pendidikan yang harusnya memanusiakan manusia yang ada di dalamnya. Artinya
harus bersifat menyenangkan sehingga siswa yang belajar seperti tidak belajar
melainkan bermain, tetapi lewat bermain hal yang menyenangkan itu ternyata bisa
menjadikan manusia yang cerdas, bebas berekspresi tanpa ragu dan menjadi diri
sendiri. Siswa akan nyaman di sekolah dan menjadikan sekolah menjadi rumah
kedua mereka dalam proses belajar.
Konsep
yang memiliki sifat menyenangkan ini disebut dengan konsep edutainment.
Konsep edutainment ini belum populer di dunia pendidikan. Menurut salah
satu sumber menyebutkan bahwa edutainment merupakan judul dari produksi
album keempat kelompok hip hop Boogie Down yang dirilis pada tahun 1990.
Kata ini juga digunakan dalam acara
radio kenamaan di Knoxiville TN yang berjudul The Edutainment Hip Hop Show
(Hamid : 2014).
Model
pembelajaran konvensional atau tradisional sudah terlalu ketinggalan zaman
apabila disandingkan dengan model-model pembelajaran yang lainnya, seperti
model pembelajaran kolaboratif. Mengapa demikian? Alasannya cukup sederhana,
yaitu jika masih menggunakan model konvensional atau tradisional, maka akan
selamanya proses pembelajaran itu hanya guru yang aktif sementara siswa hanya
manut pada setiap kata-kata atau perintah seorang guru. Dalam hal ini proses
pembelajaran seperti bank, dimana guru adalah nasabah yang menabung sementara
siswa adalah tempat atau wadahnya (tabungan). Paulo Freire menyebut pendidikan
semacam itu dengan istilah the banking
concept of education, yakni pembelajaran yang dilakukan dengan gaya bank
seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Hal ini sangatlah dihindari dalam
proses pembelajaran dengan pola edutainment.
Sementara
model pembelajaran kolaboratif merupakan metode pembelajaran yang menerapkan
paradigma baru dalam teori-teori belajar. Pembelajaran kolaboratif mendasarkan
diri pada teori Piaget, yaitu teori konstruktivis (constructivist theory)
yang memperkenalkan gagasan tentang pembelajaran aktif (active learning).
Dalam hal ini ada tiga teori yang mendukung metode belajar kolaboratif yaitu
teori kognitif, teori konstruktivisme sosial, dan teori motivasi (Hamid :
2014).
Teori
kognitif terjadi karena ada pertukaran informasi dalam kelompok, sehingga
transformasi pengetahuan terjadi pada masing-masing individu dalam kelompok
itu. Kemudian teori konstruktivisme sosial terjadi karena adanya interaksi
sosial antara anggota atau masing-masing individu sehingga akan membantu
perkembangan individu dan meningkatkan sikap saling menghormati pendapat setiap
anggota dalam kelompok. Teori motivasi teraplikasi dalam struktur pembelajaran
kolaboratif, karena pembelajaran tersebut akan memberikan lingkungan yang
kondusif untuk belajar, menambah keberanian semua anggota untuk memberikan
pendapat dan menciptakan situasi saling memerlukan pada setiap anggota dalam
kelompok.
Dalam
pembelajaran kolaboratif peran guru sangatlah penting, akan tetapi tidak
dominan. Pada model ini siswa diberikan kebebasan untuk menyampaikan pendapat untuk
menguji keberanian siswa menanggapi, menyimpulkan atau mengomentari tentang
sebuah topik yang mungkin sekarang sedang marak diperbincangkan. Tetapi metode
ini mempunyai sisi yang kurang baik yang menimbulkan konflik masing-masing
individu di dalam kelas. Ketika model pembelajaran ini diterapkan faktanya
kelas akan sedikit gaduh bila dibandingkan dengan cara belajar tradisional.
Konten yang terakhir dalam buku edutaniment
ini yaitu metode pembelajaran interaktif. Dalam metode ini pembelajaran lebih
ditekankan pada proses interaksi siswa dengan guru yang bersifat menyenangkan
dan memberdayakan. Dalam hal ini, sifat menyenangkan dan memberdayakan dalam
belajar terjadi apabila interaksi antara guru dan siswa memadukan prinsip
pendidikan dan hiburan (edutainment), sehingga siswa akan merasa
terhibur tanpa sadar ia sedang mengikuti proses pembelajaran.
Menurut
Moh. Sholeh Hamid, ada bermacam-macam metode belajar yang bersifat interaktif,
diantaranya yaitu: metode ceramah, metode proyek, metode eksperimen, metode
pemberian tugas dan pembacaan, metode diskusi dan metode latihan. Tentunya dari
masing-masing metode memiliki kekurangan dan kelebihan dalam penggunaannya. Metode
ini pun mengajarkan materi dengan konsep yang menyenangkan yaitu dengan
menggunakan permainan.
Penutup
Dapat
disimpulkan bahwa banyak pelajaran yang dapat saya ambil dari buku karangan
bapak Hamid, yaitu saya sebagai seorang calon pendidik, saya memperoleh banyak
ilmu serta metode dalam menghadapi cara belajar siswa yang unik setelah membaca
buku Edutainment ini. Selain itu buku ini juga menggunakan bahasa
Indonesia yang sangat mudah dipahami, sehingga menimbulkan motivasi saya untuk
membaca hingga halaman terakhir. Namun sayangnya pembahasan buku Edutainment
ini saya kira terlalu banyak mengulang kalimat yang pada halaman yang sudah
dibahas sebelumnya. saya menyarankan kepada pembaca buku Edutainment
agar membaca buku yang membahas tentang metode mengajar agar memiliki
pengetahuan yang lebih luas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar