A.
IDENTITAS BUKU
Judul
buku : Sejarah Pendidikan Indonesia
Penulis : Prof. Dr. S. Nasution, M.A.
Penerbit : PT Bumi Aksara
Kota
Terbit : Jakarta
Tahun
Terbit : 2008
Jumlah
Hal. : 162 halaman
Panjang
Buku : 21cm
ISBN
(13) : 978-979-526-227-5
ISBN
(10) : 979-526-227-0
B.
ISI BUKU
Buku dengan judul Sejarah Pendidikan
Indonesia yang ditulis oleh Prof. Dr. S. Nasution, M.A. merupakan buku yang
membahas tentang suatu periode tertentu dalam sejarah pendidikan Indonesia,
yakni periode 1892 sampai dengan periode 1920. Periode 1892 sampai 1920
dianggap sebagai periode yang menarik
oleh penulis, dikarenakan pada periode ini sudah mulai terlihat terbukanya
suatu sistem pendidikan di Indonesia.Selain itu, pada periode tersebut
Indonesia sedang berada dalam masa penjajahan oleh negara Belanda.
Pada dasarnya, awal didirikannya
sekolah-sekolah di Indonesia adalah untuk kepentingan pemerintah Belanda. Mereka
dengan terpaksa membuka dan memberikan pendidikan dengan biaya yang murah atau
serendah-rendahnya kepada rakyat Indonesia, hal tersebut dilakukan karena
pemerintah Belanda memerlukan tenaga yang terdidik untuk usaha mereka. Karena
alasan itulah, mereka mengembangkan pendidikan dan pada akhirnya melahirkan
lembaga pendidikan tinggi di Indonesia.
Di dalam buku ini, pembahasan mengenai
sejarah pendidikan Indonesia terbagi menjadi sebelas bab, dimana pada
masing-masing bab akan menjelaskan jenis-jenis sekolah yang didirikan pada
zaman kolonial Belanda.
Bab satu membahas tentang pandangan umum
tentang politik dan penyelenggaraan pendidikan kolonial. Dalam bab ini,
dijelaskan tentang awal didirikannya sekolah di Indonesia oleh kolonial
Belanda. Sekolah pertama yang didirikan oleh VOC (Verenigde Oost-indische
Compagnie) pada tahun 1607 betempat di Ambon, tujuan utamanya adalah untuk
menyebarkan agama Protestan, Calvinisme. Kemudian jumlah sekolah terus
bertambah, pada tahun 1632 terdapat 16 sekolah, dan pada tahun 1645 terdapat 33
sekolah. Sementara itu di Jakarta, sekolah pertama didirikan pada tahun 1630 yang
bertujuan untuk mendidik anak-anak Belanda dan Jawa agar dapat menjadi pekerja
yang kompeten untuk VOC. Kemudian pada tahun 1636 bertambah menjadi 3 sekolah
dan pada tahun 1706 telah ada 34 guru dan 4.873 murid.
Sekolah menyajikan pelajaran tentang
katekismus, agama, membaca, menulis, dan bernyanyi. Pada tahun 1778 dilakukan
pembagian kelas. Pembagian terdiri dari tiga kelas, kelas tiga merupakan kelas
terendah (anak-anak belajar abjad), kelas dua sudah mulai belajar membaca,
menulis, dan berhitung, dan kelas satu yang merupakan kelas tertinggi anak-anak
belajar membaca, menulis, katekismus, bernyanyi,dan berhitung. Namun krisis
ekonomi yang terjadi pada tahun 1880-an menyebabkan kemerosotan kemajuan
pendidikan. Terdapat ciri utama dari politik dan praktik pendidikan kolonial
belanda, yakni : gradualisme, dualisme, kontrol pusat yang ketat, pendidikan
pehawai sebagai peranan utama, prinsip konkordansi, dan tidak adanya
perencanaan pendidikan yang sistematis.
Bab dua mebahas tentang sekolah untuk
anak Indonesia sebelum reorganisasi 1892.Sekolah sebelum tahun 1892 tidak
mempunyai kurikulum, guru-guru diizinkan mengajarkan semua mata pelajaran, bahasa
pengantar yang digunakan adalah bahasa daerah, dan agama tidak diajarkan di
sekolah. Sekolah sebelum tahun 1892 merupakan sekolah yang sderhana dengan
fasilitas yang kurang memadai.
Bab tiga membahas tentang sekolah kelas
satu. Sekolah kelas satu merupakan sekolah terbaik yang disediakan untuk
anak-anak Indonesia dan hanya terdapat di kota-kota penting di Jawa. Sementara
it, kelas satu pertama di luar Jawa didirikan pada tahun 1909 dan jumlah itu
bertambah menjadi 12 pada tahun 1914. Lama sekolah kelas satu adalah 5 tahun.
Bab empat membahas tentang sekolah kelas
dua. Berbeda dengan sekolah kelas satu yang merupakan sekolah untuk golongan
atas, sekolah kelas dua merupakan sekolah untuk orang biasa. Kurikulum untuk
sekolah kelas dua sangat sederhana, meliputi pelajaran membaca, menulis, dan
berhitung.
Bab lima membahas tentang Sekolah Desa
(volksschool). Sekolah Desa merupakan tipe sekolah yang lebih sederhana dan
lebih murah. Disamping pelajaran membaca, menulis, dan berhitung dalam bahasa
Jawa, pun diajarkan bagaimana membuat keranjang, pot, genteng, dan sebagainya.
Sekolah Desa sangat berpengaruh untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk.
Bab enam membahas tentang Europese
Lagere School (ELS). Sekolah Belanda atau Europese Lagere School sejak mulanya
dimaksudkan agar sama dengan yang ada di Belanda. Tujuan dai sekolah ini adalah
untuk mengembangkan dan memperkuat kesadaran nasional di kalangan turunan
Belanda. Kurikulum terdiri atas mata pelajaran membaca, menulis, berhitung,
bahasa Belanda, sejarah, ilmu bumi, dan pelajaran lain.
Bab tujuh membahas tentang Hollands
Chines School (HCS). HCS mempunyai dasar, kurikulum, dan buku pelajaran yang
sama dengan ELS. HCS mempunyai kelas persiapan untk anak-anak verusia 5 tahun
agar lebih mudah mengikuti pelajaran. Pendiarian HCS menunjukkan dengan jelas
bagaimana sekolah digunakan sebagai alat politik untuk mencegah orang China menjadi
tidak loyal terhadap pemerintahan Belanda.
Bab delapan membahas tentang Hollands
Inlandse School (HIS). Pendirian HIS merupakan keinginan yang kuat dari
kalangan orang Indonesia untuk memperoleh pendidikan, khususnya pendidikan
Barat. HIS bagi kebanyakan orang Indonesia merupakan lembaga pendidikan yang
mahal. Sekolah HIS merupakan sekolah pertama untuk orang Indonesia yang
mempunyai kedudukan yang sama dengan ELS.
Bab sembilan membahas tentang Meer
Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Pada dasarnya MULO merupakan sekolah dasar
dengan program yang diperluas. Program terdiri atas 4 bahasa: Belanda,
Perancis, Inggris, dan Jerman. Kemudian pelajaran lainnya yang diterapkan MULO
adalah matematika, ilmu pengetahuan alam, dan ilmu pengetahuan sosial.
Bab sepuluh membahas tentang Hogere Burgerschool
(HBS). Sebelumnya, nama HBS adalah Gymnasium. Tujuan dari sekolah ini adalah
mempersiapkan siswa menuju jenjang universitas. Kurikulum HBS terdiri dari 19
mata pelajaran yang terdiri dari menghitung al-jabar, matematika, mekanika,
fisika, kimia, botani, biologi, kosmografi, UU Negara, ekonomi, tata buku,
sejarah, geografi, bahasa Belanda, Perancis, Jerman, Inggris, menggambar
tangan, dan menggambar garis.
Bab sebelas yang merupakan bab terakhir
dalam penjelasan buku Sejarah Pendidikan Indonesia membahas tentang pendidikan
tinggi dan perkembangan suatu sistem pendidikan di Indonesia. Dukungan terhadap
pendirian perguruan tinggi di Indonesia sangat kuat. Pada tahun 1919 dimulai
pembangunan gedung perguruan tinggi teknik di Bandung yang secara resmi dibuka
pada tahun 1920. Dengan begitu, lengkaplah sistem pendidikan di Indonesia yang
memungkinkan, seorang anak menepuh pendidikan dari sekolah rendah sampai
pendidikan tertinggi melalui suatu rangkaian sekolah yang saling bertalian.
Bagi anak Indonesia jalan ini masis sempit, akan tetapi jalan itu telah ada.
C.
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BUKU
1.
Kelebihan Buku
Kelebihan dari buku Sejarah
Pendidikan Indonesia diantaranya adalah penulis dapat menjelaskan awal mula
pendirian sekolah di Indonesia sampai berdirinya suatu perguruan tinggi di
Indonesia secara detail dilengkapi dengan alasan mengapa sekolah tersebut
didirikan, bagaimana kurikulum yang diterapkan pada masing-masing sekolah,
berapa lama murid menyelesaikan pendidikan, bagaimana tipe guru pada saat itu
yang dijadikan sebagai pengajar, pun pembagian mata pelajaraan serta penyebaran
murid pada saat itu dijelaskan dengan tabel sehingga membantu mempermudah
pembaca mendapatkan informasi.Selain itu, kelebihan lain dari buku yang ditulis
oleh Prof. Dr. S. Nasution, M.A. ini mencantumkan sebuah rangkuman dan tinjauan
dalam setiap babnya. Dengan begitu, pembaca dapat memahami penjelasan yang
semula begitu panjang dan detail menjadi lebih ringkas dan mudah untuk dipahami.
2.
Kekurangan Buku
Disamping
kelebihan-kelebihan yang terdapat di dalam buku Sejarah Pendidikan Indonesia,
pun ditemukan kekurangan-kekurangannya. Kekurangan yang terdapat di dalam buku
Sejarah Pendidikan Indonesia diantaranya adalah penulis seringkali menggunakan
bahasa yang kurang tepat di dalam sebuah kalimat, sehingga kurang nyaman dan
kurang dipahami oleh pembaca pada saat membacanya. Contohnya seperti pada
kalimat “Elite intelektual lambat laun
menyampingkan elite tradisional feodal“. Selain itu, penulis tidak
konsisten dalam menggunakan kata. Contohnya di dalam buku, penulis terkadang
menyebutkan nama Belanda dengan Nederland.
D.
ILMU YANG DAPAT DIAMBIL
Ilmu yang dapat diambil dari buku
Sejarah Pendidikan Indonesia adalah pembaca mendapat banyak pengetahuan tentang
bagaimana awal mula pendirian sekolah-sekolah di Indonesia, apa saja
jenis-jenis sekolah yang didirikan di Indonesia pada masa kolonial Belanda, serta
bagaimana perkembangan kurikulum pendidikan di Indonesia.
E.
SARAN DAN REKOMENDASI
Saran untuk buku Sejarah Pendidikan
Indonesia yang ditulis oleh Prof. Dr. S. Nasution, M.A. diantaranya adalah
sebaiknya buku dilengkapi dengan gambar-gambar sekolah pada masa kolonial
Belanda yang disebutkan di dalam beberapa bab di dalam buku agar lebih menarik
perhatian pembaca serta pembaca menjadi tahu bagaimana bentuk sekolah-sekolah
dan perkembangannya pada masa kolonial Belanda. Buku Sejarah Pendidikan
Indonesia sangat menarik untuk dibaca, karena berisi tentang hal penting
mengenai awal mula berdirinya sekolah pertama di Indonesia sampai berdirinya
sebuah perguruan tinggi di Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar