We are B

This is our blog which consist our assignments and our activities during we together in English Departement IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Minggu, 06 Maret 2016

Sejarah Pendidikan Indonesia Laily Aprilia


TUGAS MEREVIEW BUKU

A.     IDENTITAS BUKU
Judul buku        : Sejarah Pendidikan Indonesia
Penulis              : Prof. Dr. S. Nasution, M.A.
Penerbit            : PT Bumi Aksara
Kota Terbit      : Jakarta
Tahun Terbit     : 2008
Jumlah Hal.       : 162 halaman
Panjang Buku   : 21cm
ISBN (13)        : 978-979-526-227-5
ISBN (10)        : 979-526-227-0
B.     ISI BUKU
Buku dengan judul Sejarah Pendidikan Indonesia yang ditulis oleh Prof. Dr. S. Nasution, M.A. merupakan buku yang membahas tentang suatu periode tertentu dalam sejarah pendidikan Indonesia, yakni periode 1892 sampai dengan periode 1920. Periode 1892 sampai 1920 dianggap sebagai  periode yang menarik oleh penulis, dikarenakan pada periode ini sudah mulai terlihat terbukanya suatu sistem pendidikan di Indonesia.Selain itu, pada periode tersebut Indonesia sedang berada dalam masa penjajahan oleh negara Belanda.
Pada dasarnya, awal didirikannya sekolah-sekolah di Indonesia adalah untuk kepentingan pemerintah Belanda. Mereka dengan terpaksa membuka dan memberikan pendidikan dengan biaya yang murah atau serendah-rendahnya kepada rakyat Indonesia, hal tersebut dilakukan karena pemerintah Belanda memerlukan tenaga yang terdidik untuk usaha mereka. Karena alasan itulah, mereka mengembangkan pendidikan dan pada akhirnya melahirkan lembaga pendidikan tinggi di Indonesia.
Di dalam buku ini, pembahasan mengenai sejarah pendidikan Indonesia terbagi menjadi sebelas bab, dimana pada masing-masing bab akan menjelaskan jenis-jenis sekolah yang didirikan pada zaman kolonial Belanda.
Bab satu membahas tentang pandangan umum tentang politik dan penyelenggaraan pendidikan kolonial. Dalam bab ini, dijelaskan tentang awal didirikannya sekolah di Indonesia oleh kolonial Belanda. Sekolah pertama yang didirikan oleh VOC (Verenigde Oost-indische Compagnie) pada tahun 1607 betempat di Ambon, tujuan utamanya adalah untuk menyebarkan agama Protestan, Calvinisme. Kemudian jumlah sekolah terus bertambah, pada tahun 1632 terdapat 16 sekolah, dan pada tahun 1645 terdapat 33 sekolah. Sementara itu di Jakarta, sekolah pertama didirikan pada tahun 1630 yang bertujuan untuk mendidik anak-anak Belanda dan Jawa agar dapat menjadi pekerja yang kompeten untuk VOC. Kemudian pada tahun 1636 bertambah menjadi 3 sekolah dan pada tahun 1706 telah ada 34 guru dan 4.873 murid.
Sekolah menyajikan pelajaran tentang katekismus, agama, membaca, menulis, dan bernyanyi. Pada tahun 1778 dilakukan pembagian kelas. Pembagian terdiri dari tiga kelas, kelas tiga merupakan kelas terendah (anak-anak belajar abjad), kelas dua sudah mulai belajar membaca, menulis, dan berhitung, dan kelas satu yang merupakan kelas tertinggi anak-anak belajar membaca, menulis, katekismus, bernyanyi,dan berhitung. Namun krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1880-an menyebabkan kemerosotan kemajuan pendidikan. Terdapat ciri utama dari politik dan praktik pendidikan kolonial belanda, yakni : gradualisme, dualisme, kontrol pusat yang ketat, pendidikan pehawai sebagai peranan utama, prinsip konkordansi, dan tidak adanya perencanaan pendidikan yang sistematis.
Bab dua mebahas tentang sekolah untuk anak Indonesia sebelum reorganisasi 1892.Sekolah sebelum tahun 1892 tidak mempunyai kurikulum, guru-guru diizinkan mengajarkan semua mata pelajaran, bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa daerah, dan agama tidak diajarkan di sekolah. Sekolah sebelum tahun 1892 merupakan sekolah yang sderhana dengan fasilitas yang kurang memadai.
Bab tiga membahas tentang sekolah kelas satu. Sekolah kelas satu merupakan sekolah terbaik yang disediakan untuk anak-anak Indonesia dan hanya terdapat di kota-kota penting di Jawa. Sementara it, kelas satu pertama di luar Jawa didirikan pada tahun 1909 dan jumlah itu bertambah menjadi 12 pada tahun 1914. Lama sekolah kelas satu adalah 5 tahun.
Bab empat membahas tentang sekolah kelas dua. Berbeda dengan sekolah kelas satu yang merupakan sekolah untuk golongan atas, sekolah kelas dua merupakan sekolah untuk orang biasa. Kurikulum untuk sekolah kelas dua sangat sederhana, meliputi pelajaran membaca, menulis, dan berhitung.
Bab lima membahas tentang Sekolah Desa (volksschool). Sekolah Desa merupakan tipe sekolah yang lebih sederhana dan lebih murah. Disamping pelajaran membaca, menulis, dan berhitung dalam bahasa Jawa, pun diajarkan bagaimana membuat keranjang, pot, genteng, dan sebagainya. Sekolah Desa sangat berpengaruh untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk.
Bab enam membahas tentang Europese Lagere School (ELS). Sekolah Belanda atau Europese Lagere School sejak mulanya dimaksudkan agar sama dengan yang ada di Belanda. Tujuan dai sekolah ini adalah untuk mengembangkan dan memperkuat kesadaran nasional di kalangan turunan Belanda. Kurikulum terdiri atas mata pelajaran membaca, menulis, berhitung, bahasa Belanda, sejarah, ilmu bumi, dan pelajaran lain.
Bab tujuh membahas tentang Hollands Chines School (HCS). HCS mempunyai dasar, kurikulum, dan buku pelajaran yang sama dengan ELS. HCS mempunyai kelas persiapan untk anak-anak verusia 5 tahun agar lebih mudah mengikuti pelajaran. Pendiarian HCS menunjukkan dengan jelas bagaimana sekolah digunakan sebagai alat politik untuk mencegah orang China menjadi tidak loyal terhadap pemerintahan Belanda.
Bab delapan membahas tentang Hollands Inlandse School (HIS). Pendirian HIS merupakan keinginan yang kuat dari kalangan orang Indonesia untuk memperoleh pendidikan, khususnya pendidikan Barat. HIS bagi kebanyakan orang Indonesia merupakan lembaga pendidikan yang mahal. Sekolah HIS merupakan sekolah pertama untuk orang Indonesia yang mempunyai kedudukan yang sama dengan ELS.
Bab sembilan membahas tentang Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Pada dasarnya MULO merupakan sekolah dasar dengan program yang diperluas. Program terdiri atas 4 bahasa: Belanda, Perancis, Inggris, dan Jerman. Kemudian pelajaran lainnya yang diterapkan MULO adalah matematika, ilmu pengetahuan alam, dan ilmu pengetahuan sosial.
Bab sepuluh membahas tentang Hogere Burgerschool (HBS). Sebelumnya, nama HBS adalah Gymnasium. Tujuan dari sekolah ini adalah mempersiapkan siswa menuju jenjang universitas. Kurikulum HBS terdiri dari 19 mata pelajaran yang terdiri dari menghitung al-jabar, matematika, mekanika, fisika, kimia, botani, biologi, kosmografi, UU Negara, ekonomi, tata buku, sejarah, geografi, bahasa Belanda, Perancis, Jerman, Inggris, menggambar tangan, dan menggambar garis.
Bab sebelas yang merupakan bab terakhir dalam penjelasan buku Sejarah Pendidikan Indonesia membahas tentang pendidikan tinggi dan perkembangan suatu sistem pendidikan di Indonesia. Dukungan terhadap pendirian perguruan tinggi di Indonesia sangat kuat. Pada tahun 1919 dimulai pembangunan gedung perguruan tinggi teknik di Bandung yang secara resmi dibuka pada tahun 1920. Dengan begitu, lengkaplah sistem pendidikan di Indonesia yang memungkinkan, seorang anak menepuh pendidikan dari sekolah rendah sampai pendidikan tertinggi melalui suatu rangkaian sekolah yang saling bertalian. Bagi anak Indonesia jalan ini masis sempit, akan tetapi jalan itu telah ada.
C.     KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BUKU
1.      Kelebihan Buku
Kelebihan dari buku Sejarah Pendidikan Indonesia diantaranya adalah penulis dapat menjelaskan awal mula pendirian sekolah di Indonesia sampai berdirinya suatu perguruan tinggi di Indonesia secara detail dilengkapi dengan alasan mengapa sekolah tersebut didirikan, bagaimana kurikulum yang diterapkan pada masing-masing sekolah, berapa lama murid menyelesaikan pendidikan, bagaimana tipe guru pada saat itu yang dijadikan sebagai pengajar, pun pembagian mata pelajaraan serta penyebaran murid pada saat itu dijelaskan dengan tabel sehingga membantu mempermudah pembaca mendapatkan informasi.Selain itu, kelebihan lain dari buku yang ditulis oleh Prof. Dr. S. Nasution, M.A. ini mencantumkan sebuah rangkuman dan tinjauan dalam setiap babnya. Dengan begitu, pembaca dapat memahami penjelasan yang semula begitu panjang dan detail menjadi lebih ringkas dan mudah untuk dipahami.



2.      Kekurangan Buku
Disamping kelebihan-kelebihan yang terdapat di dalam buku Sejarah Pendidikan Indonesia, pun ditemukan kekurangan-kekurangannya. Kekurangan yang terdapat di dalam buku Sejarah Pendidikan Indonesia diantaranya adalah penulis seringkali menggunakan bahasa yang kurang tepat di dalam sebuah kalimat, sehingga kurang nyaman dan kurang dipahami oleh pembaca pada saat membacanya. Contohnya seperti pada kalimat “Elite intelektual lambat laun menyampingkan elite tradisional feodal“. Selain itu, penulis tidak konsisten dalam menggunakan kata. Contohnya di dalam buku, penulis terkadang menyebutkan nama Belanda dengan Nederland.

D.    ILMU YANG DAPAT DIAMBIL
Ilmu yang dapat diambil dari buku Sejarah Pendidikan Indonesia adalah pembaca mendapat banyak pengetahuan tentang bagaimana awal mula pendirian sekolah-sekolah di Indonesia, apa saja jenis-jenis sekolah yang didirikan di Indonesia pada masa kolonial Belanda, serta bagaimana perkembangan kurikulum pendidikan di Indonesia.
E.     SARAN DAN REKOMENDASI
Saran untuk buku Sejarah Pendidikan Indonesia yang ditulis oleh Prof. Dr. S. Nasution, M.A. diantaranya adalah sebaiknya buku dilengkapi dengan gambar-gambar sekolah pada masa kolonial Belanda yang disebutkan di dalam beberapa bab di dalam buku agar lebih menarik perhatian pembaca serta pembaca menjadi tahu bagaimana bentuk sekolah-sekolah dan perkembangannya pada masa kolonial Belanda. Buku Sejarah Pendidikan Indonesia sangat menarik untuk dibaca, karena berisi tentang hal penting mengenai awal mula berdirinya sekolah pertama di Indonesia sampai berdirinya sebuah perguruan tinggi di Indonesia.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar